Showing posts with label kathmandu. Show all posts
Showing posts with label kathmandu. Show all posts

Monday, December 16, 2019

Liburan Nepal Hari 10 - Last Day Kathmandu Boudha Stupa (2)

Setelah jalan santai 2 km, penulis akhirnya sampai, dari jarak beberapa ratus meter juga sudah terlihat karena Boudha Stupa ini sangat besar (diameter 100 m) dan tinggi (36 m), bahkan merupakan salah satu stupa terbesar dan masuk dalam UNESCO sebagai warisan dunia.

Boudha Stupa

Untuk masuk kesini dikenakan harga NPR 400 per orang. Masih ok ya harganya dibanding tempat lainnya. Disini cukup luas areanya, dengan diameter stupanya aja yang sudah 100 m apalagi ditambah dengan jalanan dan toko sekelilingnya.

Boudha Stupa Entrance Ticket

Kalau ke Nepal memang stupa begini cukup iconic jadi bisa puas-puasin untuk foto-foto disini. Pada waktu disini cuacanya cukup panas, jadi penulis juga sempat mampir ke toko di sekitar area ini untuk beli minuman. Sebetulnya penulis juga sempat melihat kalau ada air putih disediakan di beberapa spot tapi karena tidak tahu asal air itu dan juga mau cari yang dingin, jadi enaknya beli di rumah makan saja.

Toko Sekeliling Boudha Stupa

Setelah selesai berkeliling maka penulis segera pulang ke hotel, dan sama seperti sewaktu pergi, penulis rencana pulang dengan menggunakan bus umum. Dan bus yang dimbil adalah yang di seberang lokasi Boudha Stupa dimana ada banyak sekali bus yang berlalu lalang dan penulis tetap menggunakan cara yang sama yaitu lihat bus yang agak sepian dan tanya apakah ke Ratna Park atau tidak. Di dalam bus ternyata ada juga bule lain yang juga naik bus umum. Penulis lupa harga bus ini tapi kalau tidak NPR 15 berarti NPR 25.

Dari Ratna Park, penulis berjalan ke hotel dan berkemas ambil titipan tas untuk segera ke bandara. Ke bandara tidak jalan ya pastinya, jadi penulis ambil taxi dan kalau tidak salah dapat harga NPR 500 setelah tawar. Setelah sampai di bandara, penulis melakukan check-in pesawat dan masuk ke ruang tunggu sebelum pesawat. Dari sini nanti akan antri di scanning dan kita harus mendapatkan stampel yang di stamp di boarding pass bukti bahwa sudah melewati scanning. Setelah ini langsung menuju antrian boarding pesawat 

ok dan finally going home!!! segitulah cerita penulis selama 10 hari di Nepal. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan pergi ke Nepal, karena selama ini kalau liburan selalu pikirnya ke negara-negara maju, tapi ternyata negara-negara lain khususnya di Asia juga punya hal keunikan dan pengalaman tersendiri. Semoga yang baca bisa dapat pengetahuan setidaknya sedikit membantu buat para traveller yang mau pergi ke Nepal. Tetap terus dibaca karena penulis akan tetap update seputar Nepal di blog ini.

Salam dan sampai jumpa (2019)

Wednesday, December 11, 2019

Liburan Nepal Hari 10 - Last Day Kathmandu Pashupatinath (1)

Gak terasa udah sampai di hari terakhir di hari ke 10. Sudah lama sekali tidak melakukan perjalanan seperti ini yang bisa keliling ke beberapa tempat di satu kali perjalanan, terakhir kali itu pas ke Thailand (Bangkok, Koh Samui, Phi Phi Island, Phuket)

Rencana hari ini setelah breakfast kita sudah langsung check out dan titip tas di lobby karena setelah jalan keluar baliknya nanti sudah di sore hari. Target untuk balik kira-kira jam 4 sore karena pesawat nanti malam jam 7pm. Target kira-kira sampai di airport jam 5 max karena jarak yang tidak jauh juga dari Thamel. Ada baiknya selalu usahakan untuk berangkat lebih cepat karena kita tidak tahu kondisi jalanan di negara yang kita kunjungi dan apakah bandara tersebut harus antri cukup panjang.

Untuk tujuan destinasi jalan-jalan trakhir di hari ini adalah Pashupatinath dan Boudhha. Sekali lagi penulis akan kesana dengan transportasi umum yang penulis ambil di tempat pangkalan yang sama seperti kemarin sewaktu ke Patan tapi kali ini posisinya diseberang dan kendaraannya model mikrolet seperti di jakarta. Selama perjalanan kesana hampir selalu cocok dengan GPS, jadi kita gak terlalu kawatir. Tidak terlalu mutar-mutar yang bakal bikin kita bingung.



Bahkan di dalam angkot ini juga ada seorang bapak yang melirik ke arah hp saya beberapa kali, yang tadinya penulis pikir kok kepo amat sih. Ternyata si bapak itu mau tau tujuan penulis dan mencoba menolong dimana harus berhentinya. Dan sampai akhirnya memang sesuai dengan GPS yang ada bahwa memang penulis kita akan turun di jalan besarnya seperti pada waktu di Patan. Untuk lokasi turunnya bisa lihat gambar peta dibawah

Bus Stop Pashupatinath

Nah jadi kalian sudah tahu ya gimana caranya naik angkot kesana, lumayan bisa tambah irit. Pashupatinath ini adalah salah satu dari 4 tempat religi yang penting disana. Ditempat ini dijadikan tempat ritual untuk kremasi yang kalau datang pada saat yang tepat bisa melihat proses kremasi ini. Akan amat sangat disarankan tidak untuk mengambil foto untuk menghormati keluarga yang sedang berkabung. Untuk masuk kesini harganya NPR 1000 dan didepan konter tiket kita sudah disapa oleh orang yang menanyakan apa mau beli tiket dan menanyakan kita dari mana dan diajak masuk kedalam. Penulis pikir ini awalnya memang petugas yang jaga dan sempat juga diantar masuk ke dalam sebentar dan diterangkan sejarah dan soal tadi untuk liat acara kremasi. Setelah beberapa lama dia ngomong penulis sadar sepertinya ini bukan orang resmi namun lagi-lagi ya tour guide yang menawarkan jasa guide. Dengan berat hari setelah sadar kita menolak secara halus sebelum juga terlalu dalam bersama dengan dia.

Tiket Masuk NPR 1000

Kalau kalian pengen ngerti tentang sejarah dan diceritain oleh mereka, silahkan ditawar aja ya guys, kalau tidak kita juga bisa jalan-jalan sendiri. Di dalam sini kita harus berhati-hati karena ada cukup banyak monyet disana, kalau tidak hati-hati nanti mereka bisa merampas barang bawaan kita. Disini penulis tidak banyak keluarin kamera karena banyak monyet tadi itu. Buat kalian yang pernah dengar kata Sadhu yang tidak lain adalah orang suci bagi agama Hindu dimana kita bisa melihat dari beberapa mereka ada didalam sini. Mereka pada umumnya tidak ingin difoto bagi kita yang hanya mau foto saja, mungkin mereka ok kalau kita minta didoakan dan ada memberi sedikit uang buat mereka.

Gambar oleh Aidan Maguire (flickr)

Lokasi ini juga dipakai untuk tempat syuting Dr Strange loh, walaupun hanya secuplikan saja tapi lumayan mengangkat tempat ini sehingga makin banyak orang tahu.


Dr Strange - Pashupatinath

Sehabis keliling dari sini penulis  mencoba ke Boudha Stupa yang jaraknya masih sekitaran disana berkisar 2 km dan kali ini penulis tempuh dengan berjalan kaki. Selagi berjalan kaki juga sekalian melihat apakah ada tempat makan yang bisa kita kunjungi dan ternyata penulis menemukan tempat makan yang harganya murah dan porsinya besar sekali. Bagi kalian yang mau makan dengan harga murah disarankan untuk berjalan sedikit keluar dari area turis. Untuk lengkapnya di Boudha Stupa lanjut ke bagian 2 ya




Sunday, December 1, 2019

Liburan Nepal Hari 9 - Explore Patan, Kathmandu

Tinggal 1 hari lagi di Nepal, dan untuk hari ini penulis akan melakukan perjalanan ke Patan. Dan sama seperti sebelumnya, penulis tidak sewa mobil atau ambil taxi tapi akan coba naik kendaraan umum lagi. Lumayan untuk berhemat dan bisa merasakan pengalaman yang baru lagi.

Jujur sebetulnya penulis tidak tahu dimana lokasi untuk naik bus umum tapi setelah google ada yang tulis lokasinya di bus terminal Ratna Park dekat kita turun kemarin sewaktu dari Bhaktapur. Setelah setuju semua untuk naik bus umum, kita jalan ke Ratna Park dengan berjalan kaki sekitar 15 menit.

Sampai disana ternyata tidak semudah seperti sebelum-sebelumnya untuk tahu bus mana yang harus diambil, kita harus berputar kurang lebih 2 kali karena sama orang di bus terminal disuruh ambil bagian luar, dan ditanya yang diluar disuruh ambil dalam terminal, tanya lagi di dalam terminal disuruh ambil bus depan warna tertentu, lalu disana dibilang kedepan lagi. Sampai Pada akhirnya penulis coba tanya ke seberang jalan dimana ada kaya pos polisi dan kebetulan ada orang duduk-duduk disana yang tahu harus naik bus yang mana dan dengan baik hati ajak nyebrang bareng untuk tanya ke bus yg nongkrong depan jalan. Ternyata bus yang ditanya itu memang betul arah yang menuju ke Lalitpur, dimana ini nama daerah dimana Patan Durbar Square berada. Jadi sepertinya lain kali kita harus sebutkan Lalitpur-nya, karena memang tidak ada bus langsung. Lokasi pengambilan kalau tidak salah ingat ada di titik merah dibawah.

Lokasi Bus Lalitpur
Harga bus ini cuma NPR 15 per orang, murah kan? karena memang jarak tidak jauh, hanya sekitar 15 menit saja perjalanan. Kalo ambil tur atau taxi bisa berapa tuh, mungkin paling gak bisa kena NPR 500. Tapi perlu diingat ya, bus ini tidak sampai langsung ke Patan tapi turun di jalan besarnya dan harus jalan lagi sekitar 15 menit. Tempat kita turun dekat shopping mall (Labim Mall) yang tidak begitu besar tapi lumayan keren juga loh.

Bus Stop Patan

Sampai di Patan kita harus bayar uang masuk NPR 1000, baru sampai saja sudah disamperin petugas yang jaga untuk tanya apa kita ada tiket. Dan sama seperti durbar-durbar lainnya, akan ada tur guide yang datang menanyakan kepada kita kalau mau pake jasa panduan mereka.

Patan Entrance Ticket

Patan ini termasuk besar juga ya walaupun tidak sebesar Bhaktapur. Kalau kalian sudah nonton film Dr Strange, nah Patan ini juga merupakan salah satu lokasi syuting film itu. Penulis kebetulan menemukan lokasi itu tapi sepertinya posisi diruban dan diedit oleh mereka dengan bantuan CGI karena kabarnya mereka syuting setelah terjadi gempa dan terjadi beberapa kerusakan yang perlu diperbaiki. Gambar dibawah contoh dari film itu dan foto aslinya. Dari segi posisi sama mereka juga dirubah seperti flip mirror dan juga gambar asli saya sudah banyak terlihat scaffolding untuk perbaikan. Foto ini selisih 4 tahun ya.


Di Patan ini harga sudah termasuk untuk masuk ke Museum, jadi siapkan waktu setengah atau seharian disini untuk explore ke dalamnya. Kalau kalian sudah, bisa juga jalan sebentar untuk ke Golden Temple yang tidak jauh dari sana. Untuk tiket masuk tidak mahal hanya NPR 100

Golden Temple

Setelah dari sini penulis balik lagi ke jalan utama utuk ambil bus sebelum gelap karena nanti susah untuk dapat bus dan kemungkinan setelah jam kerja pasti akan banyak penumpang juga. Tapi sebelumnya penulis sempat mampir sebentar ke Labim Mall untuk sekedar lihat-lihat.

Labim Mall
Dan dari sini langsung menuju bus stop yang posisinya berlawanan dengan sewaktu penulis turun tadi pas datang. Penulis tidak yakin apakah harus ambil warna bus yang sama atau tidak, jadi setiap ada bus yang agak sepian, penulis langsung aja bilang "Ratna Park" kalau dia bilang iya ya langsung naik. Kebetulan juga pas naik sudah tidak ada bangku kosong, jadi kepala penulis harus agak menunduk selama perjalanan karena atap bus tidak terlalu tinggi. Jadi lumayan juga ya 15 menitan agak pegak degan posisi seperti itu

Spot Merah - Kira2 Tempat Nunggu Bus

Di malam harinya kali ini penulis hanya ada di sekitaran Thamel, dan kebetulan juga hari ini melihat rumah makan Indonesia "Triratna Restaurant" yang sudah tutup karena sudah malam. Sempat juga berbincang-bincang dengan yang punya yang kebetulan ada di depan jalan. Beliau bilang bahwa memang belakangan mulai banyak turis Indonesia yang datang. Beberapa artis juga datang seperti Luna Maya, Marthen Gading dll.

Mungkin next time deh pas kemari lagi dicobain makanan indo disini gimana rasanya. Sekian dulu hari ini, sampai ketemu besok hari terakhir ya



Saturday, November 23, 2019

Liburan Nepal Hari 8 - Hotel Terbaik Selama di Nepal

Sedihnya harus ninggalin hotel terbaik kita (Inn Sangrahalaya) apalagi setelah pengalaman di Nagarkot kemarin. Untuk review jelasnya hotel ini nanti bisa dibahas di post terpisah ya.

Ok..rencana hari ini adalah setelah makan siang kita akan kembali ke Kathmandu dengan naek kendaraan umum. Setau penulis sih ada 2 tempat pangkalan bus dan sisanya dengan menyetop di pinggir jalan. Jadi untuk pastinya penulis ambil yang pangkalan saja karena kalau stop mana bisa baca tulisan jurusan di bus dan musti harus tanya-tanya. Pangkalan yang kita ambil posisinya ada disebelah barat. Lihat gambar dibawah untuk lokasinya:

Bhaktapur Bus Park

Sebelum pulang kita masih ada waktu berputar-putar daerah bhaktapur yang memang cukup luas dibanding durbar-durbar yang lain. Disini juga banyak tempat suvenir-suvenir yang kalian juga bisa mulai nyicil beli dan harganya lumayan. Harga kaos buat oleh-oleh kita dapat di harga NPR300 per kaos. Dan untuk di Kathmandu sendiri kita agak kesulitan buat dapat harga yang sama, kalaupun ada itu hanya untuk bahan tertentu aja. NB: Tapi Kathmandu jg luas ya, di malam hari kita juga lihat tempat kaos yang letaknya agak kedalam, jadi bisa aja disitu lebih murah.

Di hari ini penulis mulai plan mau kemana jalannya, jadi biar tidak capek di jalan karena kebanyakan keliling. Rencana perjalanan awal adalah mengunjungi National Art Museum - Pottery Square - Taumadhi - Duttatraya. Untuk kira-kira perjalanan bisa dilihat tanda merah pada peta dibawah:

Keliling Bhaktapur

Pottery Square - Tempat ini terkenal untuk belajar membuat kerajinan tanah liat. Selain itu juga kalau tidak mau ambil kursus, bisa juga membeli produk yang sudah jadi seperti dibawah ini:

Pottery Square

Dari sini jarak tidak terlalu jauh, penulis menuju Taumadhi. Kalian bisa menikmati suasana durbar ini juga lewa gang-gang dengan suasana yang menarik. Yang suka foto selfie juga bagus, hanya di hari ini matahari cukup terik jadi cukup berasa panas walaupun udaranya cukup sejuk.



Penulis menemukan foto dari google map dimana menurut penulis sangat bagus sekali menunjukkan keindahan Taumadhi square sebelum terjadinya gempa tahun 2015 yang dimana sekaranga banyak pengerjaan perbaikan.



Foto ini diambil dari posisi atas puncak bangunan dimana banyak sekali pengunjung yang datang untuk foto baik lokal maupun turis asing. Kalau mau foto sendiri lebih baik datang lebih pagian. Seperti gambar dibawah bahkan ada rombongan turis lokal dari anak sekolah lokal disana.

Taumadhi Square

Diwaktu yang cerah ini juga kita bisa melihat pegunungan himalaya dimana kemarin pas di Nagarkot tidak terlihat. Saran penulis kalau punya banyak waktu sebaiknya tinggal disini semalam walaupun kita bisa pergi pagi pulang malamnya.



Setelah keliling-keliling kita segera bergegas jalan ke tempat bus untuk cari bus umum yang kearah Kathmandu. Bus ini tidak pakai AC ya dan bagusnya sih tidak ada aroma-aroma yang mengganggu. Lumayan bus ini harganya cuma NPR 25, yang kalau dirupiahkan hanya sekitar 3 ribu rupiah saja, murah kan!!

Bus Bhaktapur - Kathmandu

Perjalanan untuk sampai ke Kathmandu tidak terlalu lama mungkin sekitar 30-45 menit saja. Jadi buat kalin yang tidak biasa dengan bus harusnya masih ok ya, tidak seperti waktu penulis ada di Ghandruk yang perlu waktu beberapa jam. Bus ini akan berhenti di dekat Ratna Park yang pastinya sudah dekat daerah turis disana dimana kita juga sudah ada hotel disana, di Thamel.

Sisa waktu sore sampai malam penulis akan habiskan disini, penulis coba berjalan keliling daerah Thamel dan ternyata ada sisi modern juga, tidak seperti yang selama ini dilihat. Ada tempat nongkrong, KFC, Pizza Hut, dan bahkan ada casino juga disana.





Ok, untuk hari ini sekian dulu. Lanjut besok lagi di Hari 9 masih di Kathmandu dan penulis akan explore Patan Durbar Square


Tuesday, August 27, 2019

Liburan Nepal Hari 5 - Perjalanan Balik Pokhara

Di hari ke 5 ini kita rencana untuk untuk kembali turun ke pokhara pada siang hari dan kali ini dengan menggunakan bus umum sepenuhnya. Kemarin sih kita tanya harganya kena NPR 500. Memang tidak beda jauh dengan 800 naek jeep tapi klo ini 500 sampai di pokhara langsung.

Setelah bangun tidur cuma saya sendiri yang ambil makan pagi dan yang laen tidak karena hanya mau makan roti saja. Saya mah tetap makan krn perjalanan bus cukup panjang dan pasti gujlak gujluk jadi amannya kondisi badan harus udah siap dan tidak masuk angin nantinya.

Kita tidak akan tinggal di Pokhara nantinya tapi akan langsung kejar bus malam yang sudah kita book melalui sms dan telepon di hari sebelumnya karena kita tidak boleh missed karena jadwal car rental di hari besok dan hotel yang sudah di book untuk yang di Nagarkot. 

Sebelum checkout juga sempet isi pulsa online karena jumlah pulsa menurun, takut nanti gak bisa komunikasi dengan orang bus di malam hari dan juga car rental besok. Saya isi online karena pasti isi pulsa di ghandruk lebih mahal dan harus jalan turun dulu cari tempat jual pulsa. Kebetulan cari di Google ketemu beberapa dan akhirnya pilih satu yang paling murah karena perlu tambah dikit aja. Dan lumayan juga bisa bayar pakai paypal dan kebetulan ada sisa balance disana.

Setelah semua kelar beberes, kita checkout dan jalan turun ke tempat pool bus (sama dengan pool jeep). Sampai disana ditawarin naek jeep tapi kita langsung menuju bus dan tanya kenek berapa ongkosnya dan dibilang 400 (ternyata lebih murah dari pas tanya kemaren 500). Kita termasuk orang yang pertama naik bus dan bukan kami sendiri yang turis naik bis ini tetapi juga ada beberapa bule yang ikut naik bis. Ukuran bis ini tidak terlalu besar jadi untuk yang bawa tas besar harus ditaruh diatas bus karena dalam bus tidak ada penyimpanan yg cukup besar diatas kepala.

Bus Ghandruk - Pokhara
Kami ambil posisi paling depan sebelum pintu keluar tapi ternyata posisi ini tidak begitu baik karena di perjalanan banyak orang berdiri berjubel deket pintu keluar. Dan kalau kalian pikir apakah dalam bus nanti akan ada bau-bau yg pada umumnya kita kawatirkan, ternyata tidak seperti itu walaupun ada juga bau tapi cuma 1 yaitu dari keneknya sendiri. Jadi kalau untuk posisi menurut saya posisi agak ke belakang lbh pas tapi tidak tahu apakah kondisi jalan penuh guncangan akan lebih berasa untuk posisi belakang. Selama perjalanan ini bus akan stop di beberapa tempat selama ada penumpang yang mau naik.

Ada saat dimana sudah sangat penuh dan rata-rata menumpuk di bagian depan, dan karena penulis duduk di bagian depan, ya jadi agak tergencet juga dengan penumpang yg berdiri. Di bus ini tentunya selain untuk transportasi biasa ternyata ada juga penduduk sana yang bawa hasil tanam di dalam karung-karung dan juga ada yang membawa kambing yg diiket diatas bus. Tentunya ini menjadi pandangan unik buat penulis.

Makin kebawah makin berasa panas udaranya dan untungnya mreka semua tidak ikut turun sampai ke pokhara tapi hanya sampai di nayapul saja, jadi bus menjadi lebih lega. Dalam perjalanan ada 1 kali stop untuk makan siang dan toilet break, setelah itu bus langsung menuju pokhara. Bus ini nantinya sampai ke Pokhara Baglung Bus Park dan utk sampai ke pokhara lake perlu sambung lagi dengan naik bus atau taxi. Pas sampai di bus terminal kita sharing taxi sama bule yg tadinya dia mau sendiri yang kita iseng tanya mau share apa gak biar lbh murah dan dia ok, jadinya share sama kita lumayan kena NPR 100 per org drpd 300 sendiri.

Suasana Bus Pokhara
Di pokhara lake kita cari tempat makan dan juga tempat untuk istirahat untuk menampung tas-tas ransel kita. Karena kita masih punya waktu sampai jam 8 malam jadinya kita nunggu sampai sore disini dan sambil keluar jalan-jalan keliling untuk ambil foto. Ketika hari sudah semakin sore menuju malam, kita sudah siap-siap kembali untuk jalan ke tempat bus yang posisinya dekat dengan sewaktu kita di hari ke 3 untuk apply TIMS dan ACAP. 


Bus Malam Pokhara - Kathmandu
Di tempat bus ini kita sampai sudah gelap dan kita melihat lapangan cukup luas dan hanya ada 1-2 kios yang buka, kita tidak tahu pasti dimana lokasi penjemputan bus. Kita hanya masuk ke tempat kios yang buka dan coba tanya apa ini bus malam dan waktunya cocok dengan orang lain yang menunggu disana juga. Disini mereka ada jual makanan dan minuman dan setelah duduk sebentar mereka sepertinya sudah mulai beres-beres dan kita ditanya mau pesan apaan dan karena tidak pesan apa-apa jadinya kita diusir. Karena diusir dan tidak ada tempat lagi untuk menunggu akhirnya kita keluar dan nunggu didepan area ini dan kebetulan ada seperti bangku taman tapi ya posisinya gelap sekali. 

Selama menunggu juga ada beberapa orang lain yang juga mulai berdatangan dan agak bingung dengan lokasi yang pasti dimana nanti bus akan datang. Dari pengalaman kemarin sih nantinya mereka akan telpon dan juga akan turun mencari penumpang dengan memanggil. Makanya untuk hal ini kita tetap perlu ada nomor telepon yang bisa dihubungi. 
Dan betul saja akhirnya bus kita datang juga dan kita langsung naik dan cari posisi bangku yang sudah di booked. Untuk posisi bangku jangan paling belakang ya karena tidak bisa ditidurkan.

Dalam perjalanan sekitar 1-2 jam ada kejadian unik karena bus ini berhenti selama hampir 3 jam, awalnya ada AC tapi akhirnya dimatikan. Selidik punya selidik ternyata si supir dan kenek tidur dan karena waktunya cukup lama banyak orang yang gusar tapi kata penumpang disebelah saya orang lokal katanya ini normal.

Dengan stop selama 3 jam saja kita tiba di Kathmandu masih cukup pagi....ceritanya sambung di post berikutnya



Tuesday, July 9, 2019

Liburan Nepal Hari 2 - Jalan Kaki Kathmandu Durbar Square

Pagi di hari ke 2 ini setelah breakfast, kita sudah langsung checkout dan menitip tas di hotel karena malam nanti akan naik bis malam ke Pokhara dan kita akan keluar seharian dan balik lagi pada sorenya. Breakfast disini cukup standard ya jadi ada telor, kentang, dan roti panggang. Telor bisa scramble (dikocok), sunny side (mata sapi) atau setengah matang. Minuman bisa minta jus dan untuk kopi dan teh bisa diambil sendiri



Tujuan hari ini adalah durbar square. Apa itu durbar square? Durbar Square itu seperti suatu komplek Kerajaan dan di Nepal banyak terdapat durbar-durbar lainnya. Kita memutuskan untuk berjalan kaki menuju Kathmandu Durbar Square sambil melihat-lihat daerah Thamel, total perjalanan sekitar 16 menit jadi masih ok sih apalagi juga sekalian explore daerah baru buat kami. Nah ditengah perjalan juga ada banyak hal yang bisa difoto guys karena kultur Nepal yang cukup unik, kita juga bisa merasakan chaosnya berjalan disana yg sempit dan padat.

Salah satu tempat yang kita ketemukan untuk berfoto adalah "Kaathe Swyambhu Shree: Gha: Chaitya". Disini kita bisa melihat versi kecil yang ikonik di Nepal. Waktu kita disana hampir tidak ada orang lain jadi bisa bebas, namun waktu sorenya lewat kembali mulai ada beberapa turis dan anak-anak yg bermain disana jadi untuk foto tidak sebebas siang hari.



Setelah dari sana kita melanjutkan perjalanan kembali dan mampir ke tempat makan. Karena kita baru hari ke 2 dan tidak mau kenapa-kenapa, jadi kita memilih makanan di tempat makan seperti food court. Disana kita pesan samosa dan tosai. Samosa disana gede sekali dan cukup mengenyangkan. Untuk minum kita beli kopi dan teh, tapi sebetulnya di meja akan disediakan air minum dalm botol yang disana itu semua orang minum dengan botol yang sama, tentunya mereka minum tanpa kena bibir ya..."harusnya sih"...tapi ya kita sih ga berani juga hahaha. Setelah kita lihat itu botol di refill dimana, ya kita pake botol sendiri refill aja disitu.

Kenapa mereka pakai cara seperti itu? sepertinya sih ingin mengurangi jumlah konsumsi botol dimana juga pastinya mengurangi pencemaran lingkunan limbah plastik. Lihat disini hal-hal yang kita ketemukan agak unik selama di Nepal.

Atas: DOSA (Tosai), bawah: Samosa


Abis makan, ternyata gak jauh dari sana sudah pintu masuk Durbar Square, kita mencoba jalan saja dan ternyata dipanggil oleh petugas dalam pos penjagaan disana untuk ditanya sudah punya tiket atau belum. Karena kita butuh tuker uang jadi kita tidak masuk dan mencoba jalan ke belakang. Sampainya di belakang juga tidak ketemu money changer dan sewaktu mau jalan kesamping lorong ternyata katanya daerah situ juga sudah termasuk daerah durbar square, jadi kita ga bisa masuk walaupun katanya di belakang sana ada money changer harusnya.

Setelah pikir punya pikir, uang kita sebetulnya cukup untuk 2 orang masuk namun tidak cukup untuk semuanya. Jadilah yang 2 orang masuk ke dalam untuk cari money changer demi mendapatkan NPR. Sewaktu beli tiket inipun juga ada orang yang ngakunya tur guide dan memberikan service dengan harga tertentu, karena kita kesana tujuannya untuk lihat-lihat dan foto, tentunya untuk sejarah kita gak terlalu mau tahu sih. Orang ini agak mengitimidasi kita apa tahu istilah kata Bali, well....kita emang gak tau sih karena selama ini gak pernah ada yang bahas juga kan. Bagi dia kita perlu tahu arti-arti semua jadi perlu pelayanan dia. Tapi intinya bilang aja "no, thank you...dengan senyum"

Harga tiket masuk 1000 NPR yah. Di dalam durbar agak cukup luas tapi tidak seluas Bhaktapur durbar square. Kalian bisa muter-muter aja disana, dan yang paling penting tiket masuk tadi termasuk tiket museum, dan hampir saja kita tidak tahu karena kita pikir ya itu saja diluar. Tapi didalam pun juga tidak besar kok, anyway karena udah bayar yah masukkin aja semuanya.

Harga masuk SAARC dan Chinese lebih murah


Dan karena udah agak sore dan jam bus malam kita jam 8pm sudah harus menunggu, jadi sekitar jam 4 kita sudah bergerak pulang dan untung saja ketika hujan yang cukup deras kita sudah tiba di hotel. Ini adalah satu-satunya hujan yang deras sekali selama perjalanan 10 hari. Selain ini hanya ada hujan kecil ketika di Nagarkot, selebihnya cuaca cukup terang dan malah terasa panas sekali walupun suhu 28 derajat.

Di Hotel ini kita ketemu salah satu owner yang orang singapura, jadi kita bisa ngobrol cukup banyak karena jarang ketemu sesama orang Asia Tenggara. Tadinya kita sih mau jalan kaki ke tempat penjemputan bus malam, tapi karena habis hujan dan si owner itu bilang jauh dan jalanan disini tidak seperti negara sendiri, mending naik taxi. Dan akhirnya kita naik taxi karena saran dari dia. Taxi yang didapat itu cari diluar dan nego ditempat, dari awal 500 NPR kita tawar jadi 450 NPR.

Taxi ini kita berhenti di supermarket dan nanti penjemputan berada di seberang karena hujan dan ingin cari makanan, jadi kita pilih berhenti disini. Disini satu-satunya kios makanan hanya di samping depan supermarket ini dan tidak ada tempat teduh untuk makan. Kalau mau duduk naik saja ke lantai atas di level 3 kalau tidak salah, disitu ada tempat duduk kecil yang lumayan bisa ngaso sebentar.

Tempat makan yang tersedia di supermarket ini


Setelah hampir jam 8 kita memutuskan untuk menyebrang dan untungnya sudah tidak hujan, tapi masalahnya jalanan di Nepal rata-rata tidak ada lampu jalan, dan sangat padat sekali. Di saat itu juga sepertinya terjadi kecelakaan yang menimbulkan macet agak panjang. Penulis terus sms dengan no kontak yang diberikan, karena kami tidak tahu pasti posisi dimana harus menunggu dan bis itu warna apa, kalau kelewatan kan jadwal bisa berantakan. Penulis lihat keadaan malam itu di jalan agak chaos dan amburadul ditambah depan mata sendiri ada bus yang berjalan mundur dan menabrak bus belakangnya, sempat terjadi ribut cek cok tapi disana tidak seperti di Indo yang lansung main pukul, hanya ribut-ribut mulut saja.

Di malam itu mata selalu konsen untuk melihat setiap bis yang lewat agar tidak kelewatan, dan jam juga sudah lewat dari jam 8pm. Tapi ternyata bus kita ada masuk dari sisi sebelah dalam dan kenek akna turun untuk mencari orang yang menunggu. Setelah naik herannya kita juga lihat beberapa orang yang naik ada bule dan asia tapi kita tidak tahu selama kita nunggu bus mereka nunggu dimana.
 
Merah: tempat kita tunggu bis
Hijau dimana bis muncul dari sisi dalam, bukan di jalan raya




NB: Untuk saat ini kita tidak belanja oleh-oleh dulu guys secara kita juga ga tau harga-harga pada umumnya dan juga masih akan terus keliling, jadi lebih baik tidak menambah beban
Tur guide disana cukup tau Indonesia terutama Bali karena keduanya mempunyai agama yang sama yaitu Hindu jadi tidak asing bagi mereka.


BTW ada yang tau arti kata Bali??? coba komen dong, sejauh yang kita research katanya adalah 'respect', tapi bener kan selama ini gak pernah ada yg nyebut???









ATM Nepal

Buat yang cari info soal tarik uang di ATM Nepal, nah pas sekali kali ini mau bahas soal uang peruangan di Nepal. Nepal sendiri sebetulny...