Showing posts with label liburan. Show all posts
Showing posts with label liburan. Show all posts

Tuesday, January 14, 2020

ATM Nepal


Buat yang cari info soal tarik uang di ATM Nepal, nah pas sekali kali ini mau bahas soal uang peruangan di Nepal. Nepal sendiri sebetulnya negara yang masih sangat bergantung sekali dengan uang fisik. Kartu kredit sendiri tidak umum namun semakin juga bisa digunakan di beberapa tempat termasuk hotel-hotel berbintang pastinya. Kalau hotel-hotel menengah umumnya tidak punya alat kartu kredit, kalaupun ada mungkin mereka akan pergi keluar untuk menumpang ke tempat lain yang punya mesin kartu kredit. Perlu diingat transaksi dengan kartu kredit akan dikenakan biaya tambahan 3% - 7%. Jadi sebaiknya usahakan punya uang cash yang cukup karena biaya tambahan ini tentunya lumayan juga kan.


ATM di Nepal
Mesin ATM bisa dijumpai dimana-mana di Nepal tapi jang sampai salah karena pada umumnya mesin ATM ini hanya diperuntukkan untuk kartu ATM lokal saja. Untuk yang bisa dipakai dengan kartu internasional umumnya hanya di Thamel dan Pokhara saja. Jadi sebaiknya prepare tarik uang dulu sebelum kalian keluar dari area turis ini.

Beberapa bank yang biasa dipakai untuk tarik uang ATM adalah seperti Standard Chartered, Himalayan Bank, dan juga Nabil Bank. Semua penarikan tentunya akan dikenakan biaya tambahan tergantung dari bank-nya masing-masing dengan biaya sekitaran USD 2 - 6 per penarikan.

Perlu dicatat juga bahwa beberapa bank juga punya kebijakan sendiri dengan berapa jumlah uang yang bisa ditarik. Kalau pada bank SC sekitar 10rb NPR dan bank lainnya sekitar 30rb NPR tergantung daerah-nya juga tentunya.

Dan yang pastinya demi keamanan pada umumnya bank tidak mengijinkan pemakaian diluar negeri, jadi sebaiknya diaktifkan dahulu sebelum travel.


Money Changer di Nepal
Kalau dilihat ongkos penarikan di ATM tentunya opsi menukar uang di money changer pasti lebih baik. Tempat penukaran uang sangat banyak sekali khusunya di daerah turis seperti Pokhara dan Thamel. Di airport sendiri juga ada 2 tempat penukaran uang dimana yang diluar yang lebih baik karena tidak ada tambahan biaya (ceritanya pernah dibagikan disini).

Umumnya Nepal menerima berbagai mata uang Dollar baik di Hotel maupun restaurant seperti USD, AUD, SGD dan juga lainnya. Tapi sebaiknya ada sudah menukar terlebih dahulu di money changer dengan sudah pasti tahu berapa rate yang dikasih. Oh ya India Rupee dan Chinese Yuan juga sudah pasti banyak diterima karena letak geografis yang berdekatan dan juga tentunya dengan banyak turis dari negara tersebut. Bahkan beberapa toko menerima pembayaran lewat WeChat Pay.


Bawalah Cash Saat Trekking
Buat yang plan mau trekking sangat disarankan sedia cash karena mesin-mesin ATM yang misalkan bisa dijumpai tidak jaminan selalu berfungsi. Uang USD bisa dipakai namun nilai tukarnya tidak sebagus kalau tukar di pusat kota.

Kalau kita book trekking lewat jasa tur pasti akan diminta untuk melakukan transfer sejumlah uang dulu sebagai deposit dan ini sangat normal karena mereka perlu untuk membayar permit masuk dan transport yang diperlukan. Contoh permit sudah kita bagikan seperti pengalaman kita sewaktu mau ke Ghandruk di Pokhara. Untuk pembiayaan tur secara online seperti Paypal dan kartu kredit bisa dipastikan bahwa para jasa tur lokal ini bekerjsama dengan orang ketiga di luar Nepal dan pastinya lebih mahal. Untuk jasa tur lokal salah satu pembayaran yang diminta adalah dengan pembayaran UnionPay yang juga sudah kita bahas di link sini 

Ok, Happy Travelling dan bawa uang yang banyak!!




Wednesday, January 8, 2020

Cuaca di Nepal

Cuaca Nepal - Januari
Pastinya faktor cuaca menjadi pertimbangan yang penting juga dalam membuat plan untuk berlibur. Nepal sendiri walaupun terletak di daerah pegunungan namun bukan berarti akan selalu dingin tapi pada kenyataannya Nepal sendiri mempunyai 4 musim: Musim Gugur, Dingin, Semi, dan Panas.

Musim Gugur
------------------
Ini merupakan musim yang paling diminati oleh para turis-turis sehingga ini menjadikannya sebagai musim yang peak season. Musim gugur ini ada diantara bulan September sampai akhir November.
Disini paling cocok buat yang mau trekking, jalan-jalan seputaran tengah-tengah kota dan juga luar kota seperti Lumbini dan Chitwan. Perlu diingat bahwa di musim ini agak tidak cocok untuk yang ingin ke national park karena akan sulit untuk bisa melihat binatang seperti harimau.

Suhu: 7 - 27 derajat

Musim Dingin
------------------
Musim dingin ini ada di bulan Desember, Januari dan Februari. Di bulan-bulan ini bisa turun salju khususnya di daerah area trekking. Tapi di musim dingin ini juga suka terjadi pemadaman listrik bergilir.

Suhu: 2 - 20 derajat

Musim Semi
----------------
Musim semi ada di bulan akhir Februari sampai April dan ini adalah musim kedua terpadat setelah musim gugur yang paling banyak dikunjungi turis-turis. Musim ini akan ada sedikit hujan dan akan sedikit banyak berkabut sehingga jarak pandan ke gunung-gunung agak terhalang.

Suhu: 4 - 28 derajat

Musim Panas
----------------
Mulai dari bulan Mei adalah disaat memasuki musim panas. Walaupun sedang berasa di dataran tinggi namun rasa terik matahari juga bisa sangat dirasakan dan terasa panas sekali. Untuk beberapa saat juga bisa merasakan udara yang lebih lembab karena beberapa kali turun hujan walaupun sedang panas.

Suhu: 15 - 28 derajat

Lalu pada bulan juni sampai akhir Agustus dikenal sebagai periode monsoon dimana akan banyak curah hujan yang cukup besar sehingga beberapa tempat bisa mengalami banjir. Beberapa tempat bisa terjadi tanah longsor sehingga tidak disarankan untuk pergi ke daerah yang agak terpencil dan daerah-daerah trekking. Disaat ini juga mulai muncul lintah-lintah yang mulai keluar. Sebaiknya hindari bulan-bulan ini karena nantinya bisa menganggu rencana liburan yang sudah di plan.

Suhu: 19 - 28 derajat

Saturday, December 28, 2019

Info Fakta Negara Nepal

Bendera Negara Nepal

Negara Nepal - negara bagian jalur himalaya selain China, India, Bhutan, dan juga Pakistan. Dari semua negara-negara ini, Nepal lah yang paling dominan menjadi tujuan turis untuk mendaki pegunungan himalaya.

Nepal merupakan negara yang termasuk tourist friendly karena memang salah satu sumber pemasukkan mereka adalah dengan pariwisata. Ada sekitar 7 warisan budaya yang termasuk dalam UNESCO dan itu hanya di ibukota Kathmandu-nya saja.

Nepal dipercaya menjadi tempat lahirnya Budha, khususnya di Lumbini

Populasi
Total penduduk negara ini sekitar 28 juta penduduk

Suku dan Bahasa
Nepal memiliku lebih dari 101 suku dan menggunakan lebih dari 92 bahasa yang digunakan. Tetapi bahasa Nepali lah yang menjadi bahasa nasional

Religi
Jumlah agama yang dianut terbesar adalah Hindu sekitar 81.3%, lalu Budha 9%, Islam 4.4%, Kirat 3%, Kristen 0.4% dan sisanya tidak beragama/

Posisi Kendaraan
Seperti dengan Indonesia, menyetir juga berada di jalur kiri

Kode Telepon
Mereka adalah citizen +977

Mata Uang
Uang yang digunakan adalah Nepali Rupee

Biaya
Nepal cukup nyaman di kantong untuk tempat tinggal dan makan sehari-hari. Yang bisa jadi mahal adalah biaya masuk tempat-tempat wisata dan juga biaya untuk trekking.

Akses
Untuk ke Nepal umumnya transit di Malaysia. Lama perjalanan sekitar 6 jam 20 menit diluar waktu tunggu transit



Monday, December 16, 2019

Liburan Nepal Hari 10 - Last Day Kathmandu Boudha Stupa (2)

Setelah jalan santai 2 km, penulis akhirnya sampai, dari jarak beberapa ratus meter juga sudah terlihat karena Boudha Stupa ini sangat besar (diameter 100 m) dan tinggi (36 m), bahkan merupakan salah satu stupa terbesar dan masuk dalam UNESCO sebagai warisan dunia.

Boudha Stupa

Untuk masuk kesini dikenakan harga NPR 400 per orang. Masih ok ya harganya dibanding tempat lainnya. Disini cukup luas areanya, dengan diameter stupanya aja yang sudah 100 m apalagi ditambah dengan jalanan dan toko sekelilingnya.

Boudha Stupa Entrance Ticket

Kalau ke Nepal memang stupa begini cukup iconic jadi bisa puas-puasin untuk foto-foto disini. Pada waktu disini cuacanya cukup panas, jadi penulis juga sempat mampir ke toko di sekitar area ini untuk beli minuman. Sebetulnya penulis juga sempat melihat kalau ada air putih disediakan di beberapa spot tapi karena tidak tahu asal air itu dan juga mau cari yang dingin, jadi enaknya beli di rumah makan saja.

Toko Sekeliling Boudha Stupa

Setelah selesai berkeliling maka penulis segera pulang ke hotel, dan sama seperti sewaktu pergi, penulis rencana pulang dengan menggunakan bus umum. Dan bus yang dimbil adalah yang di seberang lokasi Boudha Stupa dimana ada banyak sekali bus yang berlalu lalang dan penulis tetap menggunakan cara yang sama yaitu lihat bus yang agak sepian dan tanya apakah ke Ratna Park atau tidak. Di dalam bus ternyata ada juga bule lain yang juga naik bus umum. Penulis lupa harga bus ini tapi kalau tidak NPR 15 berarti NPR 25.

Dari Ratna Park, penulis berjalan ke hotel dan berkemas ambil titipan tas untuk segera ke bandara. Ke bandara tidak jalan ya pastinya, jadi penulis ambil taxi dan kalau tidak salah dapat harga NPR 500 setelah tawar. Setelah sampai di bandara, penulis melakukan check-in pesawat dan masuk ke ruang tunggu sebelum pesawat. Dari sini nanti akan antri di scanning dan kita harus mendapatkan stampel yang di stamp di boarding pass bukti bahwa sudah melewati scanning. Setelah ini langsung menuju antrian boarding pesawat 

ok dan finally going home!!! segitulah cerita penulis selama 10 hari di Nepal. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan pergi ke Nepal, karena selama ini kalau liburan selalu pikirnya ke negara-negara maju, tapi ternyata negara-negara lain khususnya di Asia juga punya hal keunikan dan pengalaman tersendiri. Semoga yang baca bisa dapat pengetahuan setidaknya sedikit membantu buat para traveller yang mau pergi ke Nepal. Tetap terus dibaca karena penulis akan tetap update seputar Nepal di blog ini.

Salam dan sampai jumpa (2019)

Wednesday, December 11, 2019

Liburan Nepal Hari 10 - Last Day Kathmandu Pashupatinath (1)

Gak terasa udah sampai di hari terakhir di hari ke 10. Sudah lama sekali tidak melakukan perjalanan seperti ini yang bisa keliling ke beberapa tempat di satu kali perjalanan, terakhir kali itu pas ke Thailand (Bangkok, Koh Samui, Phi Phi Island, Phuket)

Rencana hari ini setelah breakfast kita sudah langsung check out dan titip tas di lobby karena setelah jalan keluar baliknya nanti sudah di sore hari. Target untuk balik kira-kira jam 4 sore karena pesawat nanti malam jam 7pm. Target kira-kira sampai di airport jam 5 max karena jarak yang tidak jauh juga dari Thamel. Ada baiknya selalu usahakan untuk berangkat lebih cepat karena kita tidak tahu kondisi jalanan di negara yang kita kunjungi dan apakah bandara tersebut harus antri cukup panjang.

Untuk tujuan destinasi jalan-jalan trakhir di hari ini adalah Pashupatinath dan Boudhha. Sekali lagi penulis akan kesana dengan transportasi umum yang penulis ambil di tempat pangkalan yang sama seperti kemarin sewaktu ke Patan tapi kali ini posisinya diseberang dan kendaraannya model mikrolet seperti di jakarta. Selama perjalanan kesana hampir selalu cocok dengan GPS, jadi kita gak terlalu kawatir. Tidak terlalu mutar-mutar yang bakal bikin kita bingung.



Bahkan di dalam angkot ini juga ada seorang bapak yang melirik ke arah hp saya beberapa kali, yang tadinya penulis pikir kok kepo amat sih. Ternyata si bapak itu mau tau tujuan penulis dan mencoba menolong dimana harus berhentinya. Dan sampai akhirnya memang sesuai dengan GPS yang ada bahwa memang penulis kita akan turun di jalan besarnya seperti pada waktu di Patan. Untuk lokasi turunnya bisa lihat gambar peta dibawah

Bus Stop Pashupatinath

Nah jadi kalian sudah tahu ya gimana caranya naik angkot kesana, lumayan bisa tambah irit. Pashupatinath ini adalah salah satu dari 4 tempat religi yang penting disana. Ditempat ini dijadikan tempat ritual untuk kremasi yang kalau datang pada saat yang tepat bisa melihat proses kremasi ini. Akan amat sangat disarankan tidak untuk mengambil foto untuk menghormati keluarga yang sedang berkabung. Untuk masuk kesini harganya NPR 1000 dan didepan konter tiket kita sudah disapa oleh orang yang menanyakan apa mau beli tiket dan menanyakan kita dari mana dan diajak masuk kedalam. Penulis pikir ini awalnya memang petugas yang jaga dan sempat juga diantar masuk ke dalam sebentar dan diterangkan sejarah dan soal tadi untuk liat acara kremasi. Setelah beberapa lama dia ngomong penulis sadar sepertinya ini bukan orang resmi namun lagi-lagi ya tour guide yang menawarkan jasa guide. Dengan berat hari setelah sadar kita menolak secara halus sebelum juga terlalu dalam bersama dengan dia.

Tiket Masuk NPR 1000

Kalau kalian pengen ngerti tentang sejarah dan diceritain oleh mereka, silahkan ditawar aja ya guys, kalau tidak kita juga bisa jalan-jalan sendiri. Di dalam sini kita harus berhati-hati karena ada cukup banyak monyet disana, kalau tidak hati-hati nanti mereka bisa merampas barang bawaan kita. Disini penulis tidak banyak keluarin kamera karena banyak monyet tadi itu. Buat kalian yang pernah dengar kata Sadhu yang tidak lain adalah orang suci bagi agama Hindu dimana kita bisa melihat dari beberapa mereka ada didalam sini. Mereka pada umumnya tidak ingin difoto bagi kita yang hanya mau foto saja, mungkin mereka ok kalau kita minta didoakan dan ada memberi sedikit uang buat mereka.

Gambar oleh Aidan Maguire (flickr)

Lokasi ini juga dipakai untuk tempat syuting Dr Strange loh, walaupun hanya secuplikan saja tapi lumayan mengangkat tempat ini sehingga makin banyak orang tahu.


Dr Strange - Pashupatinath

Sehabis keliling dari sini penulis  mencoba ke Boudha Stupa yang jaraknya masih sekitaran disana berkisar 2 km dan kali ini penulis tempuh dengan berjalan kaki. Selagi berjalan kaki juga sekalian melihat apakah ada tempat makan yang bisa kita kunjungi dan ternyata penulis menemukan tempat makan yang harganya murah dan porsinya besar sekali. Bagi kalian yang mau makan dengan harga murah disarankan untuk berjalan sedikit keluar dari area turis. Untuk lengkapnya di Boudha Stupa lanjut ke bagian 2 ya




Sunday, December 1, 2019

Liburan Nepal Hari 9 - Explore Patan, Kathmandu

Tinggal 1 hari lagi di Nepal, dan untuk hari ini penulis akan melakukan perjalanan ke Patan. Dan sama seperti sebelumnya, penulis tidak sewa mobil atau ambil taxi tapi akan coba naik kendaraan umum lagi. Lumayan untuk berhemat dan bisa merasakan pengalaman yang baru lagi.

Jujur sebetulnya penulis tidak tahu dimana lokasi untuk naik bus umum tapi setelah google ada yang tulis lokasinya di bus terminal Ratna Park dekat kita turun kemarin sewaktu dari Bhaktapur. Setelah setuju semua untuk naik bus umum, kita jalan ke Ratna Park dengan berjalan kaki sekitar 15 menit.

Sampai disana ternyata tidak semudah seperti sebelum-sebelumnya untuk tahu bus mana yang harus diambil, kita harus berputar kurang lebih 2 kali karena sama orang di bus terminal disuruh ambil bagian luar, dan ditanya yang diluar disuruh ambil dalam terminal, tanya lagi di dalam terminal disuruh ambil bus depan warna tertentu, lalu disana dibilang kedepan lagi. Sampai Pada akhirnya penulis coba tanya ke seberang jalan dimana ada kaya pos polisi dan kebetulan ada orang duduk-duduk disana yang tahu harus naik bus yang mana dan dengan baik hati ajak nyebrang bareng untuk tanya ke bus yg nongkrong depan jalan. Ternyata bus yang ditanya itu memang betul arah yang menuju ke Lalitpur, dimana ini nama daerah dimana Patan Durbar Square berada. Jadi sepertinya lain kali kita harus sebutkan Lalitpur-nya, karena memang tidak ada bus langsung. Lokasi pengambilan kalau tidak salah ingat ada di titik merah dibawah.

Lokasi Bus Lalitpur
Harga bus ini cuma NPR 15 per orang, murah kan? karena memang jarak tidak jauh, hanya sekitar 15 menit saja perjalanan. Kalo ambil tur atau taxi bisa berapa tuh, mungkin paling gak bisa kena NPR 500. Tapi perlu diingat ya, bus ini tidak sampai langsung ke Patan tapi turun di jalan besarnya dan harus jalan lagi sekitar 15 menit. Tempat kita turun dekat shopping mall (Labim Mall) yang tidak begitu besar tapi lumayan keren juga loh.

Bus Stop Patan

Sampai di Patan kita harus bayar uang masuk NPR 1000, baru sampai saja sudah disamperin petugas yang jaga untuk tanya apa kita ada tiket. Dan sama seperti durbar-durbar lainnya, akan ada tur guide yang datang menanyakan kepada kita kalau mau pake jasa panduan mereka.

Patan Entrance Ticket

Patan ini termasuk besar juga ya walaupun tidak sebesar Bhaktapur. Kalau kalian sudah nonton film Dr Strange, nah Patan ini juga merupakan salah satu lokasi syuting film itu. Penulis kebetulan menemukan lokasi itu tapi sepertinya posisi diruban dan diedit oleh mereka dengan bantuan CGI karena kabarnya mereka syuting setelah terjadi gempa dan terjadi beberapa kerusakan yang perlu diperbaiki. Gambar dibawah contoh dari film itu dan foto aslinya. Dari segi posisi sama mereka juga dirubah seperti flip mirror dan juga gambar asli saya sudah banyak terlihat scaffolding untuk perbaikan. Foto ini selisih 4 tahun ya.


Di Patan ini harga sudah termasuk untuk masuk ke Museum, jadi siapkan waktu setengah atau seharian disini untuk explore ke dalamnya. Kalau kalian sudah, bisa juga jalan sebentar untuk ke Golden Temple yang tidak jauh dari sana. Untuk tiket masuk tidak mahal hanya NPR 100

Golden Temple

Setelah dari sini penulis balik lagi ke jalan utama utuk ambil bus sebelum gelap karena nanti susah untuk dapat bus dan kemungkinan setelah jam kerja pasti akan banyak penumpang juga. Tapi sebelumnya penulis sempat mampir sebentar ke Labim Mall untuk sekedar lihat-lihat.

Labim Mall
Dan dari sini langsung menuju bus stop yang posisinya berlawanan dengan sewaktu penulis turun tadi pas datang. Penulis tidak yakin apakah harus ambil warna bus yang sama atau tidak, jadi setiap ada bus yang agak sepian, penulis langsung aja bilang "Ratna Park" kalau dia bilang iya ya langsung naik. Kebetulan juga pas naik sudah tidak ada bangku kosong, jadi kepala penulis harus agak menunduk selama perjalanan karena atap bus tidak terlalu tinggi. Jadi lumayan juga ya 15 menitan agak pegak degan posisi seperti itu

Spot Merah - Kira2 Tempat Nunggu Bus

Di malam harinya kali ini penulis hanya ada di sekitaran Thamel, dan kebetulan juga hari ini melihat rumah makan Indonesia "Triratna Restaurant" yang sudah tutup karena sudah malam. Sempat juga berbincang-bincang dengan yang punya yang kebetulan ada di depan jalan. Beliau bilang bahwa memang belakangan mulai banyak turis Indonesia yang datang. Beberapa artis juga datang seperti Luna Maya, Marthen Gading dll.

Mungkin next time deh pas kemari lagi dicobain makanan indo disini gimana rasanya. Sekian dulu hari ini, sampai ketemu besok hari terakhir ya



Saturday, November 23, 2019

Liburan Nepal Hari 8 - Hotel Terbaik Selama di Nepal

Sedihnya harus ninggalin hotel terbaik kita (Inn Sangrahalaya) apalagi setelah pengalaman di Nagarkot kemarin. Untuk review jelasnya hotel ini nanti bisa dibahas di post terpisah ya.

Ok..rencana hari ini adalah setelah makan siang kita akan kembali ke Kathmandu dengan naek kendaraan umum. Setau penulis sih ada 2 tempat pangkalan bus dan sisanya dengan menyetop di pinggir jalan. Jadi untuk pastinya penulis ambil yang pangkalan saja karena kalau stop mana bisa baca tulisan jurusan di bus dan musti harus tanya-tanya. Pangkalan yang kita ambil posisinya ada disebelah barat. Lihat gambar dibawah untuk lokasinya:

Bhaktapur Bus Park

Sebelum pulang kita masih ada waktu berputar-putar daerah bhaktapur yang memang cukup luas dibanding durbar-durbar yang lain. Disini juga banyak tempat suvenir-suvenir yang kalian juga bisa mulai nyicil beli dan harganya lumayan. Harga kaos buat oleh-oleh kita dapat di harga NPR300 per kaos. Dan untuk di Kathmandu sendiri kita agak kesulitan buat dapat harga yang sama, kalaupun ada itu hanya untuk bahan tertentu aja. NB: Tapi Kathmandu jg luas ya, di malam hari kita juga lihat tempat kaos yang letaknya agak kedalam, jadi bisa aja disitu lebih murah.

Di hari ini penulis mulai plan mau kemana jalannya, jadi biar tidak capek di jalan karena kebanyakan keliling. Rencana perjalanan awal adalah mengunjungi National Art Museum - Pottery Square - Taumadhi - Duttatraya. Untuk kira-kira perjalanan bisa dilihat tanda merah pada peta dibawah:

Keliling Bhaktapur

Pottery Square - Tempat ini terkenal untuk belajar membuat kerajinan tanah liat. Selain itu juga kalau tidak mau ambil kursus, bisa juga membeli produk yang sudah jadi seperti dibawah ini:

Pottery Square

Dari sini jarak tidak terlalu jauh, penulis menuju Taumadhi. Kalian bisa menikmati suasana durbar ini juga lewa gang-gang dengan suasana yang menarik. Yang suka foto selfie juga bagus, hanya di hari ini matahari cukup terik jadi cukup berasa panas walaupun udaranya cukup sejuk.



Penulis menemukan foto dari google map dimana menurut penulis sangat bagus sekali menunjukkan keindahan Taumadhi square sebelum terjadinya gempa tahun 2015 yang dimana sekaranga banyak pengerjaan perbaikan.



Foto ini diambil dari posisi atas puncak bangunan dimana banyak sekali pengunjung yang datang untuk foto baik lokal maupun turis asing. Kalau mau foto sendiri lebih baik datang lebih pagian. Seperti gambar dibawah bahkan ada rombongan turis lokal dari anak sekolah lokal disana.

Taumadhi Square

Diwaktu yang cerah ini juga kita bisa melihat pegunungan himalaya dimana kemarin pas di Nagarkot tidak terlihat. Saran penulis kalau punya banyak waktu sebaiknya tinggal disini semalam walaupun kita bisa pergi pagi pulang malamnya.



Setelah keliling-keliling kita segera bergegas jalan ke tempat bus untuk cari bus umum yang kearah Kathmandu. Bus ini tidak pakai AC ya dan bagusnya sih tidak ada aroma-aroma yang mengganggu. Lumayan bus ini harganya cuma NPR 25, yang kalau dirupiahkan hanya sekitar 3 ribu rupiah saja, murah kan!!

Bus Bhaktapur - Kathmandu

Perjalanan untuk sampai ke Kathmandu tidak terlalu lama mungkin sekitar 30-45 menit saja. Jadi buat kalin yang tidak biasa dengan bus harusnya masih ok ya, tidak seperti waktu penulis ada di Ghandruk yang perlu waktu beberapa jam. Bus ini akan berhenti di dekat Ratna Park yang pastinya sudah dekat daerah turis disana dimana kita juga sudah ada hotel disana, di Thamel.

Sisa waktu sore sampai malam penulis akan habiskan disini, penulis coba berjalan keliling daerah Thamel dan ternyata ada sisi modern juga, tidak seperti yang selama ini dilihat. Ada tempat nongkrong, KFC, Pizza Hut, dan bahkan ada casino juga disana.





Ok, untuk hari ini sekian dulu. Lanjut besok lagi di Hari 9 masih di Kathmandu dan penulis akan explore Patan Durbar Square


Tuesday, September 17, 2019

Tiket ACAP & TIMS - Nepal

Tiket ACAP dan TIMS buat trekking di Ghandruk (Annapurna)

Tiketnya mahal euy, total NPR 5000. Sayang kalau cuma ke Ghandruk aja, kalau ada waktu mending ambil trekking Annapurna sekalian. Untuk cerita proses kita apply bisa baca di link ini. Untuk apply perhatikan bahwa hari Sabtu adalah hari libur, jadi perhatikan jadwal kalian ya. Dan yang paling penting untuk apply ACAP dan TIMS adalah perlu memasukkan info asuransi yang bisa meng-cover kita selama perjalanan. Jadi persiapkan nomor polis dan no telp kontak untuk mempercepat proses aplikasi.

Selain itu siapkan foto juga, jadi sewaktu kesana bisa lebih cepat. Dan juga perhatikan data yang dicatat pada kartu adalah benar karena bisa saja mereka salah tulis.

TIMS - NPR 2000
ACAP - NPR 3000


Monday, September 16, 2019

Liburan Nepal Hari 7 - Nagarkot to Bhaktapur

Di hari ke 7 ini kita rencana setengah hari di Nagarkot, lalu jam 2 berangkat ke Bhaktapur. Setengah hari ini setelah breakfast kita akan explore Nagarkot, tidak full trekking karena tidak akan cukup jadi kita hanya coba saja jalan untuk melihat dan merasakan sedikit suasana trekking disini. Perjalanan kita sekitar 40 menit pergi dan 40 menit jalan balik, tapi tentunya jalanannya tidak rata ya, tapi naik dan turun juga. Jadi buat penulis yang tidak terbiasa perjalanan ini cukup melelahkan tentunya.

Nagarkot Panoramic Hiking Trail
Saya pribadi tidak terlalu ingin trekking ke tempat yang banyak pohon dedaunan karena akan ada lintah yang mengincar kita mengingat ini sudah mulai masuk musim monsoon. Kita sendiri bisa melihat banyak lintah yang sudah mati di bagian area tertentu, jadi penulis sangat kawatir kalau jalan di kiri kanan dan atas ketika ada daun-daunan. Kita sempat kena 1 kali lintah ketika kita penasaran masuk ke sebuah batuan yang tengah-tengahnya ada lubang bisa dilewati masuk ke dalam, baru masuk sebentar dan foto, ternyata udah ada 1 lintah yang berhasil masuk ke dalam celana, sejak itu kita jadi parnoan dan mulai memasukkan celana jeans kita kedalam kaos kaki. Kita sempat juga memakai minyak angin yang mungkin akan mencegah dia masuk atau menyentuh bagian-bagian lain yang terbuka.

Ini adalah sebagian foto-foto yang penulis ambil dalam perjalanan:
Nagarkot Hiking Trail View

Nagarkot - Nepalee

Untuk trekking sepertinya sih seru tapi lain kali harus kesini di bukan musim hujan nih. Setelah sampai di lokasi Nagarkot Hiking Trail View, penulis melakukan perjalanan kembali ke hotel dikarenakan waktu yang tersisa untuk penjemputan yang disepakati pada jam 2 siang. Di hotel penulis santai sebentar dan memesan segelas teh susu panas sambil menunggu si supir datang kembali ke hotel untuk menjemput

Teh Susu Nepal

Ketika supir telah datang kita langsung memulai perjalanan kita ke Bhakatapur. Perjalanan ke Bhaktapur sendiri memakan waktu kurang lebih 1 jam, dan kita tidak diturunin di hotel karena hotel kita sendiri letaknya berada di Bhaktapur Durbar Square dimana lokasi kendaraan tidak bisa masuk. Setelah kita diturunin, kite melangkah masuk  dan langsung saja disapa oleh petugas tiket yang menanyakan apakah sudah ada tiket atau belum, tiket disini berharga NPR1500. Dan karena kita tinggal selama 2 hari, maka si petugas akan mencatat nomor paspor kita kedalam tiket karena pada dasarnya tiket itu adalah untuk 1 hari saja.

Dari pintu masuk kita berjalan sekitar 10 menit untuk sampai ke hotel dan kebetulan hotel yang penulis pilih termasuk hotel yang masih baru. Hotel ini masih sangat bagus dan baunya pun masih terasa sekali masih baru. Bisa dibilang ini hotel terbaik selama kita tinggal di Nepal, dari suasana dan desainnya sangat cakep. Nah si supir sekali lagi kasih saran kita untuk coba makanan lokal yang terkenal di Bhaktapur yaitu Bara. Nah jadi setelah kita rehat sebentar dan beres-beres barang, kita langsung jalan untuk cari makan. Ternyata lokasi hotel kita tidak jauh dari tempat makan itu dan lokasinya di lorong ternyata. Di depan lokasi tempat makan terdapat papan kecil bertuliskan "Newari Food | Bara - Wo". Nah kalau ketemu ini tinggal masuk aja langsung, tempatnya tidak besar namun cukup untuk 4 - 5 meja.

Bara
Ownernya cukup ramah dan ready banget buat di foto. Ini buktinya dia langsung ambil sikap siaga sadar kamera ketika penulis mengarahkan kamera untuk mengabadikan momen dia sedang masak. Menu utama itu adalah Bara yang ada di depan beliau. Dan yang disamping adalah kentang sebagai side dish dan kuahnya juga.

Si Ibu Penjual Makanan Bara

Dari segi harga cukup terbilang murah terlebih lokasinya yang berada di daerah turis, satunya kalau tidak salah seharga NPR 100, kentangnya NPR 50, minuman soda (Sprite / Coca Cola) seharga NPR 125. Tidak jauh dari sana juga ada penjual gorengan dan lagi-lagi iseng buat cobain juga. Harga gorengan sekitar NPR 40 saja.

Cemilan Gorengan Nepal

Bhaktapur Durbar Square ini cukup luas jadi untuk hari ini yang sudah menjelang sore kita hanya menjelajah sebagian kecil sambil menikmati suasana sore di Bhaktapur sambil melihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan penduduk lokal seperti bermain caturnya orang Nepal.

Kongkow di Nepal

Suasana di malam hari juga cukup bagus buat foto-foto gedung yang unik, namun tidak semua bisa di foto karena hanya beberapa tempat saja yang ada cahanya lampu. Di lokasi ini juga nampak tentara yang berjaga-jaga dan penulis sempat disamperin, ntah karena curiga atau dia saja yang kepo. Penulis sempat ngobrol dengan satu tentara yang datang dan dia menebak kita dari Malaysia seperti pada umumnya. Tidak satupun negara Indonesia keluar dari percakapan ini, but yeah..."I am from Indonesia"

Bhaktapur Durbar Square

Bhaktapur Durbar Square

Abis dari foto-foto disini, penulis kembali ke hotel untuk istirahat dan persiapan exlore Bhakatapur Durbar Square lebih mendalam. See you di hari 8 perjalanan kami


Tuesday, July 9, 2019

Liburan Nepal Hari 2 - Jalan Kaki Kathmandu Durbar Square

Pagi di hari ke 2 ini setelah breakfast, kita sudah langsung checkout dan menitip tas di hotel karena malam nanti akan naik bis malam ke Pokhara dan kita akan keluar seharian dan balik lagi pada sorenya. Breakfast disini cukup standard ya jadi ada telor, kentang, dan roti panggang. Telor bisa scramble (dikocok), sunny side (mata sapi) atau setengah matang. Minuman bisa minta jus dan untuk kopi dan teh bisa diambil sendiri



Tujuan hari ini adalah durbar square. Apa itu durbar square? Durbar Square itu seperti suatu komplek Kerajaan dan di Nepal banyak terdapat durbar-durbar lainnya. Kita memutuskan untuk berjalan kaki menuju Kathmandu Durbar Square sambil melihat-lihat daerah Thamel, total perjalanan sekitar 16 menit jadi masih ok sih apalagi juga sekalian explore daerah baru buat kami. Nah ditengah perjalan juga ada banyak hal yang bisa difoto guys karena kultur Nepal yang cukup unik, kita juga bisa merasakan chaosnya berjalan disana yg sempit dan padat.

Salah satu tempat yang kita ketemukan untuk berfoto adalah "Kaathe Swyambhu Shree: Gha: Chaitya". Disini kita bisa melihat versi kecil yang ikonik di Nepal. Waktu kita disana hampir tidak ada orang lain jadi bisa bebas, namun waktu sorenya lewat kembali mulai ada beberapa turis dan anak-anak yg bermain disana jadi untuk foto tidak sebebas siang hari.



Setelah dari sana kita melanjutkan perjalanan kembali dan mampir ke tempat makan. Karena kita baru hari ke 2 dan tidak mau kenapa-kenapa, jadi kita memilih makanan di tempat makan seperti food court. Disana kita pesan samosa dan tosai. Samosa disana gede sekali dan cukup mengenyangkan. Untuk minum kita beli kopi dan teh, tapi sebetulnya di meja akan disediakan air minum dalm botol yang disana itu semua orang minum dengan botol yang sama, tentunya mereka minum tanpa kena bibir ya..."harusnya sih"...tapi ya kita sih ga berani juga hahaha. Setelah kita lihat itu botol di refill dimana, ya kita pake botol sendiri refill aja disitu.

Kenapa mereka pakai cara seperti itu? sepertinya sih ingin mengurangi jumlah konsumsi botol dimana juga pastinya mengurangi pencemaran lingkunan limbah plastik. Lihat disini hal-hal yang kita ketemukan agak unik selama di Nepal.

Atas: DOSA (Tosai), bawah: Samosa


Abis makan, ternyata gak jauh dari sana sudah pintu masuk Durbar Square, kita mencoba jalan saja dan ternyata dipanggil oleh petugas dalam pos penjagaan disana untuk ditanya sudah punya tiket atau belum. Karena kita butuh tuker uang jadi kita tidak masuk dan mencoba jalan ke belakang. Sampainya di belakang juga tidak ketemu money changer dan sewaktu mau jalan kesamping lorong ternyata katanya daerah situ juga sudah termasuk daerah durbar square, jadi kita ga bisa masuk walaupun katanya di belakang sana ada money changer harusnya.

Setelah pikir punya pikir, uang kita sebetulnya cukup untuk 2 orang masuk namun tidak cukup untuk semuanya. Jadilah yang 2 orang masuk ke dalam untuk cari money changer demi mendapatkan NPR. Sewaktu beli tiket inipun juga ada orang yang ngakunya tur guide dan memberikan service dengan harga tertentu, karena kita kesana tujuannya untuk lihat-lihat dan foto, tentunya untuk sejarah kita gak terlalu mau tahu sih. Orang ini agak mengitimidasi kita apa tahu istilah kata Bali, well....kita emang gak tau sih karena selama ini gak pernah ada yang bahas juga kan. Bagi dia kita perlu tahu arti-arti semua jadi perlu pelayanan dia. Tapi intinya bilang aja "no, thank you...dengan senyum"

Harga tiket masuk 1000 NPR yah. Di dalam durbar agak cukup luas tapi tidak seluas Bhaktapur durbar square. Kalian bisa muter-muter aja disana, dan yang paling penting tiket masuk tadi termasuk tiket museum, dan hampir saja kita tidak tahu karena kita pikir ya itu saja diluar. Tapi didalam pun juga tidak besar kok, anyway karena udah bayar yah masukkin aja semuanya.

Harga masuk SAARC dan Chinese lebih murah


Dan karena udah agak sore dan jam bus malam kita jam 8pm sudah harus menunggu, jadi sekitar jam 4 kita sudah bergerak pulang dan untung saja ketika hujan yang cukup deras kita sudah tiba di hotel. Ini adalah satu-satunya hujan yang deras sekali selama perjalanan 10 hari. Selain ini hanya ada hujan kecil ketika di Nagarkot, selebihnya cuaca cukup terang dan malah terasa panas sekali walupun suhu 28 derajat.

Di Hotel ini kita ketemu salah satu owner yang orang singapura, jadi kita bisa ngobrol cukup banyak karena jarang ketemu sesama orang Asia Tenggara. Tadinya kita sih mau jalan kaki ke tempat penjemputan bus malam, tapi karena habis hujan dan si owner itu bilang jauh dan jalanan disini tidak seperti negara sendiri, mending naik taxi. Dan akhirnya kita naik taxi karena saran dari dia. Taxi yang didapat itu cari diluar dan nego ditempat, dari awal 500 NPR kita tawar jadi 450 NPR.

Taxi ini kita berhenti di supermarket dan nanti penjemputan berada di seberang karena hujan dan ingin cari makanan, jadi kita pilih berhenti disini. Disini satu-satunya kios makanan hanya di samping depan supermarket ini dan tidak ada tempat teduh untuk makan. Kalau mau duduk naik saja ke lantai atas di level 3 kalau tidak salah, disitu ada tempat duduk kecil yang lumayan bisa ngaso sebentar.

Tempat makan yang tersedia di supermarket ini


Setelah hampir jam 8 kita memutuskan untuk menyebrang dan untungnya sudah tidak hujan, tapi masalahnya jalanan di Nepal rata-rata tidak ada lampu jalan, dan sangat padat sekali. Di saat itu juga sepertinya terjadi kecelakaan yang menimbulkan macet agak panjang. Penulis terus sms dengan no kontak yang diberikan, karena kami tidak tahu pasti posisi dimana harus menunggu dan bis itu warna apa, kalau kelewatan kan jadwal bisa berantakan. Penulis lihat keadaan malam itu di jalan agak chaos dan amburadul ditambah depan mata sendiri ada bus yang berjalan mundur dan menabrak bus belakangnya, sempat terjadi ribut cek cok tapi disana tidak seperti di Indo yang lansung main pukul, hanya ribut-ribut mulut saja.

Di malam itu mata selalu konsen untuk melihat setiap bis yang lewat agar tidak kelewatan, dan jam juga sudah lewat dari jam 8pm. Tapi ternyata bus kita ada masuk dari sisi sebelah dalam dan kenek akna turun untuk mencari orang yang menunggu. Setelah naik herannya kita juga lihat beberapa orang yang naik ada bule dan asia tapi kita tidak tahu selama kita nunggu bus mereka nunggu dimana.
 
Merah: tempat kita tunggu bis
Hijau dimana bis muncul dari sisi dalam, bukan di jalan raya




NB: Untuk saat ini kita tidak belanja oleh-oleh dulu guys secara kita juga ga tau harga-harga pada umumnya dan juga masih akan terus keliling, jadi lebih baik tidak menambah beban
Tur guide disana cukup tau Indonesia terutama Bali karena keduanya mempunyai agama yang sama yaitu Hindu jadi tidak asing bagi mereka.


BTW ada yang tau arti kata Bali??? coba komen dong, sejauh yang kita research katanya adalah 'respect', tapi bener kan selama ini gak pernah ada yg nyebut???









Sunday, July 7, 2019

Liburan Nepal Hari 1 - Terbang Ke Kathmandu (1)

Setelah sekian lama tidak liburan yang agak jauh, akhirnya memutuskan untuk berlibur ke Nepal, kenapa pilih Nepal? Awalnya dulu diajak teman tapi tidak terlalu tertarik secara saya lebih suka kota-kota yang lebih terkenal di negara lainnya, kan ada Jepang, Korea, China Hong Kong, Australia, dan lain-lain. Tapi ketika dilihat lagi beberapa Youtube terutama sempat nonton Youtube Gading Marthen, jadi lebih tau kalau ternyata Nepal mempunyai alam yang indah juga tanpa harus hiking, jadi disitulah ketika teman ajak lagi langsung dijawab "ok". Walaupun dulu pas diajak masih ada pesawat AirAsia tapi sekarang sudah tidak ada lagi.

Abis rundingan tanggal berapa berangkat, akhirnya diputuskan ambil pesawat Malindo karena waktu itu ini yang paling murah karena "promo". Promo ini disini ditulis tanpa bagasi dan makan ternyata. Baru tau ada pesawa full service yang promo terus dikurangin jatahnya, tapi it's ok dah kebeli toh tiketnya. Karena ambil Malindo berarti kita pasti transit di KL, jadi kudu bawa MYR (Malaysia Ringgit) kalau mau plan makan disana.

Tiba di KL karena harus menunggu pesawat berikutnya yang kira-kira 2 jam, kita sudah berencana untuk cari makan dulu disana karena kan tadi itu "promo" gak dapat makanan. Nah kita ketemu deh itu BK (Burger King), ya udah langsung aja makan disana. Tapi karena pesawat yang ke Nepal agak delay sebentar jadi saya ambil keputusan mau lihat lagi jam berapa pastinya berangkat. Saya sempat tanya kepada orang petugas Malaysia Airlines disana untuk cari tahu itu jam di monitor jam berangkat atau boarding, si petugas itu bilangnya boarding. Ok, lalu saya balik ke BK dan bilang ke teman saya kalau itu boarding tapi agak gak yakin juga seh. Selagi makan ternyata teman saya turun lagi cek, dan ternyata itu bukan boarding dan itu adalah jam terbang...oh Malaysia...gitu aja kok salah kasih info

Sehabis makan kita langsung jalan menuju gate pesawat dan pas masuk kedalam pesawat ternyata banyak juga orang Nepal yang hendak pulang kampung, dan mereka ntah kenapa 1 rombongan tapi banyak yang sudah book bangku window. Saya jadi ngerti kenapa waktu check-in udah ga dapat kursi yang dekat jendela, padahal dari sebelum berangkat sudah ingin dapat kursi jendela bagian kanan, karena katanya kalau terang bisa melihat gunung Himalaya sewaktu mau landing. Orang-orang Nepali pakaiannya keren-keren loh karena lengkap dengan jas dan pakaian resmi, sedangkan kita ya biasa kaos dan jaket aja.

Momen yang paling bingung adalah ketika awak pesawat membagikan makanan dan kita bingung ini gratis semua orang atau bagaiman, kan promo gak dapat makanan. Setelah kita pede jawab makanan apa yang mau di makan, ya udah kita nikmati saja yang sudah terhidang...n ternyata memang dapet, walaupun masih kenyang dengan BK tadi tapi ya ok lah berkat tambahan (Chicken Masala)

Chicken Masala - Malindo Air
Dan juga tentunya penerbangan KL-Nepal ini, layar TV di kursi bisa digunakan, jadi paling gak ada hiburan beberapa jam kedepan sambil menunggu tiba di Nepal. Disini tidak disediakan headset atau earpiece ya, jadi kalian harus bawa sendiri atau nonton tanpa suara.

Hingga beberapa jam kemudian diumumkan akan segera landing, setelah beberapa saat saya berasa ini pesawat sepertinya muter lagi, dan hal ini sebetulnya biasa saja dalam penerbangan, namun untuk kali ini saya agak berasa tidak nyaman juga dikarenakan pesawat yang agak tidak stabil. Saya tidak tahu kenapa mungkin ini juga karena angin di daerah pegunungan. Jujur belum pernah sih ngalamin begitu sekalipun terbang ke Australia atau Korea. Tapi pada akhirnya kita sampai juga dengan selamat dan mendarat di bandara Kathmandu, Tribhuvan International Airport




Bagian ke 2 di day 1 ini sambung ke blog berikutnya ya disini


ATM Nepal

Buat yang cari info soal tarik uang di ATM Nepal, nah pas sekali kali ini mau bahas soal uang peruangan di Nepal. Nepal sendiri sebetulny...