Monday, December 16, 2019

Liburan Nepal Hari 10 - Last Day Kathmandu Boudha Stupa (2)

Setelah jalan santai 2 km, penulis akhirnya sampai, dari jarak beberapa ratus meter juga sudah terlihat karena Boudha Stupa ini sangat besar (diameter 100 m) dan tinggi (36 m), bahkan merupakan salah satu stupa terbesar dan masuk dalam UNESCO sebagai warisan dunia.

Boudha Stupa

Untuk masuk kesini dikenakan harga NPR 400 per orang. Masih ok ya harganya dibanding tempat lainnya. Disini cukup luas areanya, dengan diameter stupanya aja yang sudah 100 m apalagi ditambah dengan jalanan dan toko sekelilingnya.

Boudha Stupa Entrance Ticket

Kalau ke Nepal memang stupa begini cukup iconic jadi bisa puas-puasin untuk foto-foto disini. Pada waktu disini cuacanya cukup panas, jadi penulis juga sempat mampir ke toko di sekitar area ini untuk beli minuman. Sebetulnya penulis juga sempat melihat kalau ada air putih disediakan di beberapa spot tapi karena tidak tahu asal air itu dan juga mau cari yang dingin, jadi enaknya beli di rumah makan saja.

Toko Sekeliling Boudha Stupa

Setelah selesai berkeliling maka penulis segera pulang ke hotel, dan sama seperti sewaktu pergi, penulis rencana pulang dengan menggunakan bus umum. Dan bus yang dimbil adalah yang di seberang lokasi Boudha Stupa dimana ada banyak sekali bus yang berlalu lalang dan penulis tetap menggunakan cara yang sama yaitu lihat bus yang agak sepian dan tanya apakah ke Ratna Park atau tidak. Di dalam bus ternyata ada juga bule lain yang juga naik bus umum. Penulis lupa harga bus ini tapi kalau tidak NPR 15 berarti NPR 25.

Dari Ratna Park, penulis berjalan ke hotel dan berkemas ambil titipan tas untuk segera ke bandara. Ke bandara tidak jalan ya pastinya, jadi penulis ambil taxi dan kalau tidak salah dapat harga NPR 500 setelah tawar. Setelah sampai di bandara, penulis melakukan check-in pesawat dan masuk ke ruang tunggu sebelum pesawat. Dari sini nanti akan antri di scanning dan kita harus mendapatkan stampel yang di stamp di boarding pass bukti bahwa sudah melewati scanning. Setelah ini langsung menuju antrian boarding pesawat 

ok dan finally going home!!! segitulah cerita penulis selama 10 hari di Nepal. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan pergi ke Nepal, karena selama ini kalau liburan selalu pikirnya ke negara-negara maju, tapi ternyata negara-negara lain khususnya di Asia juga punya hal keunikan dan pengalaman tersendiri. Semoga yang baca bisa dapat pengetahuan setidaknya sedikit membantu buat para traveller yang mau pergi ke Nepal. Tetap terus dibaca karena penulis akan tetap update seputar Nepal di blog ini.

Salam dan sampai jumpa (2019)

Wednesday, December 11, 2019

Liburan Nepal Hari 10 - Last Day Kathmandu Pashupatinath (1)

Gak terasa udah sampai di hari terakhir di hari ke 10. Sudah lama sekali tidak melakukan perjalanan seperti ini yang bisa keliling ke beberapa tempat di satu kali perjalanan, terakhir kali itu pas ke Thailand (Bangkok, Koh Samui, Phi Phi Island, Phuket)

Rencana hari ini setelah breakfast kita sudah langsung check out dan titip tas di lobby karena setelah jalan keluar baliknya nanti sudah di sore hari. Target untuk balik kira-kira jam 4 sore karena pesawat nanti malam jam 7pm. Target kira-kira sampai di airport jam 5 max karena jarak yang tidak jauh juga dari Thamel. Ada baiknya selalu usahakan untuk berangkat lebih cepat karena kita tidak tahu kondisi jalanan di negara yang kita kunjungi dan apakah bandara tersebut harus antri cukup panjang.

Untuk tujuan destinasi jalan-jalan trakhir di hari ini adalah Pashupatinath dan Boudhha. Sekali lagi penulis akan kesana dengan transportasi umum yang penulis ambil di tempat pangkalan yang sama seperti kemarin sewaktu ke Patan tapi kali ini posisinya diseberang dan kendaraannya model mikrolet seperti di jakarta. Selama perjalanan kesana hampir selalu cocok dengan GPS, jadi kita gak terlalu kawatir. Tidak terlalu mutar-mutar yang bakal bikin kita bingung.



Bahkan di dalam angkot ini juga ada seorang bapak yang melirik ke arah hp saya beberapa kali, yang tadinya penulis pikir kok kepo amat sih. Ternyata si bapak itu mau tau tujuan penulis dan mencoba menolong dimana harus berhentinya. Dan sampai akhirnya memang sesuai dengan GPS yang ada bahwa memang penulis kita akan turun di jalan besarnya seperti pada waktu di Patan. Untuk lokasi turunnya bisa lihat gambar peta dibawah

Bus Stop Pashupatinath

Nah jadi kalian sudah tahu ya gimana caranya naik angkot kesana, lumayan bisa tambah irit. Pashupatinath ini adalah salah satu dari 4 tempat religi yang penting disana. Ditempat ini dijadikan tempat ritual untuk kremasi yang kalau datang pada saat yang tepat bisa melihat proses kremasi ini. Akan amat sangat disarankan tidak untuk mengambil foto untuk menghormati keluarga yang sedang berkabung. Untuk masuk kesini harganya NPR 1000 dan didepan konter tiket kita sudah disapa oleh orang yang menanyakan apa mau beli tiket dan menanyakan kita dari mana dan diajak masuk kedalam. Penulis pikir ini awalnya memang petugas yang jaga dan sempat juga diantar masuk ke dalam sebentar dan diterangkan sejarah dan soal tadi untuk liat acara kremasi. Setelah beberapa lama dia ngomong penulis sadar sepertinya ini bukan orang resmi namun lagi-lagi ya tour guide yang menawarkan jasa guide. Dengan berat hari setelah sadar kita menolak secara halus sebelum juga terlalu dalam bersama dengan dia.

Tiket Masuk NPR 1000

Kalau kalian pengen ngerti tentang sejarah dan diceritain oleh mereka, silahkan ditawar aja ya guys, kalau tidak kita juga bisa jalan-jalan sendiri. Di dalam sini kita harus berhati-hati karena ada cukup banyak monyet disana, kalau tidak hati-hati nanti mereka bisa merampas barang bawaan kita. Disini penulis tidak banyak keluarin kamera karena banyak monyet tadi itu. Buat kalian yang pernah dengar kata Sadhu yang tidak lain adalah orang suci bagi agama Hindu dimana kita bisa melihat dari beberapa mereka ada didalam sini. Mereka pada umumnya tidak ingin difoto bagi kita yang hanya mau foto saja, mungkin mereka ok kalau kita minta didoakan dan ada memberi sedikit uang buat mereka.

Gambar oleh Aidan Maguire (flickr)

Lokasi ini juga dipakai untuk tempat syuting Dr Strange loh, walaupun hanya secuplikan saja tapi lumayan mengangkat tempat ini sehingga makin banyak orang tahu.


Dr Strange - Pashupatinath

Sehabis keliling dari sini penulis  mencoba ke Boudha Stupa yang jaraknya masih sekitaran disana berkisar 2 km dan kali ini penulis tempuh dengan berjalan kaki. Selagi berjalan kaki juga sekalian melihat apakah ada tempat makan yang bisa kita kunjungi dan ternyata penulis menemukan tempat makan yang harganya murah dan porsinya besar sekali. Bagi kalian yang mau makan dengan harga murah disarankan untuk berjalan sedikit keluar dari area turis. Untuk lengkapnya di Boudha Stupa lanjut ke bagian 2 ya




Sunday, December 1, 2019

Liburan Nepal Hari 9 - Explore Patan, Kathmandu

Tinggal 1 hari lagi di Nepal, dan untuk hari ini penulis akan melakukan perjalanan ke Patan. Dan sama seperti sebelumnya, penulis tidak sewa mobil atau ambil taxi tapi akan coba naik kendaraan umum lagi. Lumayan untuk berhemat dan bisa merasakan pengalaman yang baru lagi.

Jujur sebetulnya penulis tidak tahu dimana lokasi untuk naik bus umum tapi setelah google ada yang tulis lokasinya di bus terminal Ratna Park dekat kita turun kemarin sewaktu dari Bhaktapur. Setelah setuju semua untuk naik bus umum, kita jalan ke Ratna Park dengan berjalan kaki sekitar 15 menit.

Sampai disana ternyata tidak semudah seperti sebelum-sebelumnya untuk tahu bus mana yang harus diambil, kita harus berputar kurang lebih 2 kali karena sama orang di bus terminal disuruh ambil bagian luar, dan ditanya yang diluar disuruh ambil dalam terminal, tanya lagi di dalam terminal disuruh ambil bus depan warna tertentu, lalu disana dibilang kedepan lagi. Sampai Pada akhirnya penulis coba tanya ke seberang jalan dimana ada kaya pos polisi dan kebetulan ada orang duduk-duduk disana yang tahu harus naik bus yang mana dan dengan baik hati ajak nyebrang bareng untuk tanya ke bus yg nongkrong depan jalan. Ternyata bus yang ditanya itu memang betul arah yang menuju ke Lalitpur, dimana ini nama daerah dimana Patan Durbar Square berada. Jadi sepertinya lain kali kita harus sebutkan Lalitpur-nya, karena memang tidak ada bus langsung. Lokasi pengambilan kalau tidak salah ingat ada di titik merah dibawah.

Lokasi Bus Lalitpur
Harga bus ini cuma NPR 15 per orang, murah kan? karena memang jarak tidak jauh, hanya sekitar 15 menit saja perjalanan. Kalo ambil tur atau taxi bisa berapa tuh, mungkin paling gak bisa kena NPR 500. Tapi perlu diingat ya, bus ini tidak sampai langsung ke Patan tapi turun di jalan besarnya dan harus jalan lagi sekitar 15 menit. Tempat kita turun dekat shopping mall (Labim Mall) yang tidak begitu besar tapi lumayan keren juga loh.

Bus Stop Patan

Sampai di Patan kita harus bayar uang masuk NPR 1000, baru sampai saja sudah disamperin petugas yang jaga untuk tanya apa kita ada tiket. Dan sama seperti durbar-durbar lainnya, akan ada tur guide yang datang menanyakan kepada kita kalau mau pake jasa panduan mereka.

Patan Entrance Ticket

Patan ini termasuk besar juga ya walaupun tidak sebesar Bhaktapur. Kalau kalian sudah nonton film Dr Strange, nah Patan ini juga merupakan salah satu lokasi syuting film itu. Penulis kebetulan menemukan lokasi itu tapi sepertinya posisi diruban dan diedit oleh mereka dengan bantuan CGI karena kabarnya mereka syuting setelah terjadi gempa dan terjadi beberapa kerusakan yang perlu diperbaiki. Gambar dibawah contoh dari film itu dan foto aslinya. Dari segi posisi sama mereka juga dirubah seperti flip mirror dan juga gambar asli saya sudah banyak terlihat scaffolding untuk perbaikan. Foto ini selisih 4 tahun ya.


Di Patan ini harga sudah termasuk untuk masuk ke Museum, jadi siapkan waktu setengah atau seharian disini untuk explore ke dalamnya. Kalau kalian sudah, bisa juga jalan sebentar untuk ke Golden Temple yang tidak jauh dari sana. Untuk tiket masuk tidak mahal hanya NPR 100

Golden Temple

Setelah dari sini penulis balik lagi ke jalan utama utuk ambil bus sebelum gelap karena nanti susah untuk dapat bus dan kemungkinan setelah jam kerja pasti akan banyak penumpang juga. Tapi sebelumnya penulis sempat mampir sebentar ke Labim Mall untuk sekedar lihat-lihat.

Labim Mall
Dan dari sini langsung menuju bus stop yang posisinya berlawanan dengan sewaktu penulis turun tadi pas datang. Penulis tidak yakin apakah harus ambil warna bus yang sama atau tidak, jadi setiap ada bus yang agak sepian, penulis langsung aja bilang "Ratna Park" kalau dia bilang iya ya langsung naik. Kebetulan juga pas naik sudah tidak ada bangku kosong, jadi kepala penulis harus agak menunduk selama perjalanan karena atap bus tidak terlalu tinggi. Jadi lumayan juga ya 15 menitan agak pegak degan posisi seperti itu

Spot Merah - Kira2 Tempat Nunggu Bus

Di malam harinya kali ini penulis hanya ada di sekitaran Thamel, dan kebetulan juga hari ini melihat rumah makan Indonesia "Triratna Restaurant" yang sudah tutup karena sudah malam. Sempat juga berbincang-bincang dengan yang punya yang kebetulan ada di depan jalan. Beliau bilang bahwa memang belakangan mulai banyak turis Indonesia yang datang. Beberapa artis juga datang seperti Luna Maya, Marthen Gading dll.

Mungkin next time deh pas kemari lagi dicobain makanan indo disini gimana rasanya. Sekian dulu hari ini, sampai ketemu besok hari terakhir ya



Saturday, November 23, 2019

Liburan Nepal Hari 8 - Hotel Terbaik Selama di Nepal

Sedihnya harus ninggalin hotel terbaik kita (Inn Sangrahalaya) apalagi setelah pengalaman di Nagarkot kemarin. Untuk review jelasnya hotel ini nanti bisa dibahas di post terpisah ya.

Ok..rencana hari ini adalah setelah makan siang kita akan kembali ke Kathmandu dengan naek kendaraan umum. Setau penulis sih ada 2 tempat pangkalan bus dan sisanya dengan menyetop di pinggir jalan. Jadi untuk pastinya penulis ambil yang pangkalan saja karena kalau stop mana bisa baca tulisan jurusan di bus dan musti harus tanya-tanya. Pangkalan yang kita ambil posisinya ada disebelah barat. Lihat gambar dibawah untuk lokasinya:

Bhaktapur Bus Park

Sebelum pulang kita masih ada waktu berputar-putar daerah bhaktapur yang memang cukup luas dibanding durbar-durbar yang lain. Disini juga banyak tempat suvenir-suvenir yang kalian juga bisa mulai nyicil beli dan harganya lumayan. Harga kaos buat oleh-oleh kita dapat di harga NPR300 per kaos. Dan untuk di Kathmandu sendiri kita agak kesulitan buat dapat harga yang sama, kalaupun ada itu hanya untuk bahan tertentu aja. NB: Tapi Kathmandu jg luas ya, di malam hari kita juga lihat tempat kaos yang letaknya agak kedalam, jadi bisa aja disitu lebih murah.

Di hari ini penulis mulai plan mau kemana jalannya, jadi biar tidak capek di jalan karena kebanyakan keliling. Rencana perjalanan awal adalah mengunjungi National Art Museum - Pottery Square - Taumadhi - Duttatraya. Untuk kira-kira perjalanan bisa dilihat tanda merah pada peta dibawah:

Keliling Bhaktapur

Pottery Square - Tempat ini terkenal untuk belajar membuat kerajinan tanah liat. Selain itu juga kalau tidak mau ambil kursus, bisa juga membeli produk yang sudah jadi seperti dibawah ini:

Pottery Square

Dari sini jarak tidak terlalu jauh, penulis menuju Taumadhi. Kalian bisa menikmati suasana durbar ini juga lewa gang-gang dengan suasana yang menarik. Yang suka foto selfie juga bagus, hanya di hari ini matahari cukup terik jadi cukup berasa panas walaupun udaranya cukup sejuk.



Penulis menemukan foto dari google map dimana menurut penulis sangat bagus sekali menunjukkan keindahan Taumadhi square sebelum terjadinya gempa tahun 2015 yang dimana sekaranga banyak pengerjaan perbaikan.



Foto ini diambil dari posisi atas puncak bangunan dimana banyak sekali pengunjung yang datang untuk foto baik lokal maupun turis asing. Kalau mau foto sendiri lebih baik datang lebih pagian. Seperti gambar dibawah bahkan ada rombongan turis lokal dari anak sekolah lokal disana.

Taumadhi Square

Diwaktu yang cerah ini juga kita bisa melihat pegunungan himalaya dimana kemarin pas di Nagarkot tidak terlihat. Saran penulis kalau punya banyak waktu sebaiknya tinggal disini semalam walaupun kita bisa pergi pagi pulang malamnya.



Setelah keliling-keliling kita segera bergegas jalan ke tempat bus untuk cari bus umum yang kearah Kathmandu. Bus ini tidak pakai AC ya dan bagusnya sih tidak ada aroma-aroma yang mengganggu. Lumayan bus ini harganya cuma NPR 25, yang kalau dirupiahkan hanya sekitar 3 ribu rupiah saja, murah kan!!

Bus Bhaktapur - Kathmandu

Perjalanan untuk sampai ke Kathmandu tidak terlalu lama mungkin sekitar 30-45 menit saja. Jadi buat kalin yang tidak biasa dengan bus harusnya masih ok ya, tidak seperti waktu penulis ada di Ghandruk yang perlu waktu beberapa jam. Bus ini akan berhenti di dekat Ratna Park yang pastinya sudah dekat daerah turis disana dimana kita juga sudah ada hotel disana, di Thamel.

Sisa waktu sore sampai malam penulis akan habiskan disini, penulis coba berjalan keliling daerah Thamel dan ternyata ada sisi modern juga, tidak seperti yang selama ini dilihat. Ada tempat nongkrong, KFC, Pizza Hut, dan bahkan ada casino juga disana.





Ok, untuk hari ini sekian dulu. Lanjut besok lagi di Hari 9 masih di Kathmandu dan penulis akan explore Patan Durbar Square


Tuesday, September 17, 2019

Tiket ACAP & TIMS - Nepal

Tiket ACAP dan TIMS buat trekking di Ghandruk (Annapurna)

Tiketnya mahal euy, total NPR 5000. Sayang kalau cuma ke Ghandruk aja, kalau ada waktu mending ambil trekking Annapurna sekalian. Untuk cerita proses kita apply bisa baca di link ini. Untuk apply perhatikan bahwa hari Sabtu adalah hari libur, jadi perhatikan jadwal kalian ya. Dan yang paling penting untuk apply ACAP dan TIMS adalah perlu memasukkan info asuransi yang bisa meng-cover kita selama perjalanan. Jadi persiapkan nomor polis dan no telp kontak untuk mempercepat proses aplikasi.

Selain itu siapkan foto juga, jadi sewaktu kesana bisa lebih cepat. Dan juga perhatikan data yang dicatat pada kartu adalah benar karena bisa saja mereka salah tulis.

TIMS - NPR 2000
ACAP - NPR 3000


Monday, September 16, 2019

Liburan Nepal Hari 7 - Nagarkot to Bhaktapur

Di hari ke 7 ini kita rencana setengah hari di Nagarkot, lalu jam 2 berangkat ke Bhaktapur. Setengah hari ini setelah breakfast kita akan explore Nagarkot, tidak full trekking karena tidak akan cukup jadi kita hanya coba saja jalan untuk melihat dan merasakan sedikit suasana trekking disini. Perjalanan kita sekitar 40 menit pergi dan 40 menit jalan balik, tapi tentunya jalanannya tidak rata ya, tapi naik dan turun juga. Jadi buat penulis yang tidak terbiasa perjalanan ini cukup melelahkan tentunya.

Nagarkot Panoramic Hiking Trail
Saya pribadi tidak terlalu ingin trekking ke tempat yang banyak pohon dedaunan karena akan ada lintah yang mengincar kita mengingat ini sudah mulai masuk musim monsoon. Kita sendiri bisa melihat banyak lintah yang sudah mati di bagian area tertentu, jadi penulis sangat kawatir kalau jalan di kiri kanan dan atas ketika ada daun-daunan. Kita sempat kena 1 kali lintah ketika kita penasaran masuk ke sebuah batuan yang tengah-tengahnya ada lubang bisa dilewati masuk ke dalam, baru masuk sebentar dan foto, ternyata udah ada 1 lintah yang berhasil masuk ke dalam celana, sejak itu kita jadi parnoan dan mulai memasukkan celana jeans kita kedalam kaos kaki. Kita sempat juga memakai minyak angin yang mungkin akan mencegah dia masuk atau menyentuh bagian-bagian lain yang terbuka.

Ini adalah sebagian foto-foto yang penulis ambil dalam perjalanan:
Nagarkot Hiking Trail View

Nagarkot - Nepalee

Untuk trekking sepertinya sih seru tapi lain kali harus kesini di bukan musim hujan nih. Setelah sampai di lokasi Nagarkot Hiking Trail View, penulis melakukan perjalanan kembali ke hotel dikarenakan waktu yang tersisa untuk penjemputan yang disepakati pada jam 2 siang. Di hotel penulis santai sebentar dan memesan segelas teh susu panas sambil menunggu si supir datang kembali ke hotel untuk menjemput

Teh Susu Nepal

Ketika supir telah datang kita langsung memulai perjalanan kita ke Bhakatapur. Perjalanan ke Bhaktapur sendiri memakan waktu kurang lebih 1 jam, dan kita tidak diturunin di hotel karena hotel kita sendiri letaknya berada di Bhaktapur Durbar Square dimana lokasi kendaraan tidak bisa masuk. Setelah kita diturunin, kite melangkah masuk  dan langsung saja disapa oleh petugas tiket yang menanyakan apakah sudah ada tiket atau belum, tiket disini berharga NPR1500. Dan karena kita tinggal selama 2 hari, maka si petugas akan mencatat nomor paspor kita kedalam tiket karena pada dasarnya tiket itu adalah untuk 1 hari saja.

Dari pintu masuk kita berjalan sekitar 10 menit untuk sampai ke hotel dan kebetulan hotel yang penulis pilih termasuk hotel yang masih baru. Hotel ini masih sangat bagus dan baunya pun masih terasa sekali masih baru. Bisa dibilang ini hotel terbaik selama kita tinggal di Nepal, dari suasana dan desainnya sangat cakep. Nah si supir sekali lagi kasih saran kita untuk coba makanan lokal yang terkenal di Bhaktapur yaitu Bara. Nah jadi setelah kita rehat sebentar dan beres-beres barang, kita langsung jalan untuk cari makan. Ternyata lokasi hotel kita tidak jauh dari tempat makan itu dan lokasinya di lorong ternyata. Di depan lokasi tempat makan terdapat papan kecil bertuliskan "Newari Food | Bara - Wo". Nah kalau ketemu ini tinggal masuk aja langsung, tempatnya tidak besar namun cukup untuk 4 - 5 meja.

Bara
Ownernya cukup ramah dan ready banget buat di foto. Ini buktinya dia langsung ambil sikap siaga sadar kamera ketika penulis mengarahkan kamera untuk mengabadikan momen dia sedang masak. Menu utama itu adalah Bara yang ada di depan beliau. Dan yang disamping adalah kentang sebagai side dish dan kuahnya juga.

Si Ibu Penjual Makanan Bara

Dari segi harga cukup terbilang murah terlebih lokasinya yang berada di daerah turis, satunya kalau tidak salah seharga NPR 100, kentangnya NPR 50, minuman soda (Sprite / Coca Cola) seharga NPR 125. Tidak jauh dari sana juga ada penjual gorengan dan lagi-lagi iseng buat cobain juga. Harga gorengan sekitar NPR 40 saja.

Cemilan Gorengan Nepal

Bhaktapur Durbar Square ini cukup luas jadi untuk hari ini yang sudah menjelang sore kita hanya menjelajah sebagian kecil sambil menikmati suasana sore di Bhaktapur sambil melihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan penduduk lokal seperti bermain caturnya orang Nepal.

Kongkow di Nepal

Suasana di malam hari juga cukup bagus buat foto-foto gedung yang unik, namun tidak semua bisa di foto karena hanya beberapa tempat saja yang ada cahanya lampu. Di lokasi ini juga nampak tentara yang berjaga-jaga dan penulis sempat disamperin, ntah karena curiga atau dia saja yang kepo. Penulis sempat ngobrol dengan satu tentara yang datang dan dia menebak kita dari Malaysia seperti pada umumnya. Tidak satupun negara Indonesia keluar dari percakapan ini, but yeah..."I am from Indonesia"

Bhaktapur Durbar Square

Bhaktapur Durbar Square

Abis dari foto-foto disini, penulis kembali ke hotel untuk istirahat dan persiapan exlore Bhakatapur Durbar Square lebih mendalam. See you di hari 8 perjalanan kami


Sunday, September 15, 2019

Liburan Nepal Hari 6 - Menuju Nagarkot via Dhulikhel

Hari ke 6 - Melewati perjalanan semalaman di bis dan tiba di Kathmandu kepagian, sepertinya jam 7 - 8 pagi sudah sampai dan janjian sewa mobil yang masih nanti jam 10am. Muter cari makan tidak ada yang buka dan supermarket yang kita kemarin tunggu berangkat juga belum buka. Akhirnya kita ngemper aja di jalanan dan diikuti beberapa anjing jalanan karena mereka tau kita ada bawa makanan.

Disini ada kejadian menarik dimana burung gagak disana sempat menghampiri kandang burung dara yang ada di sela-sela pintu rumah orang. Dan burung itu berhasil mengambil anak dari burung dara yang tidak terlalu kecil tapi belum tumbuh sempurna secara belum tumbuh bulu. Waktu diambil burung itu dibawa ke tanah dan karena saya dekat lokasinya saya coba hampiri dan dilepas oleh burung tersebut. 

Anak Burung Dara

Saya perhatikan burung itu masih mengincar anak burung dara ini jadi saya tidak bisa tinggalkan jauh jauh. Masalahnya juga anjing2 yang dekat dengan kitapun penasaran dan mendekati anak burung itu. Pas kebetulan ada orang lewat saya coba minta tolong burung itu diambil dan ditaruh diatas pot bunga saja, tapi tetap saja itu anjing2 mendekati terus. Sampai yang punya rmh keluar dan saya ceritakan kejadiannya, diapun blg ga ada cara lain untuk balikin keatas karena susah.

Tidak berapa lama saya sempat sibuk sendiri dan pas balik ketempat pot bunga itu ternyata anak burung sudah tidak ada dan yang punya rumah juga sepertinya sudah kembali masuk rumah. Tidak tahu apa yg terjadi dengan anak burung itu namun bisa saja yang punya rumah berbaik hati untuk menyimpan burung itu, ya semoga aja demikian.

Setelah ini pintu pagar supermarket dibuka dan kami diperbolehkan duduk masuk ke area supermarket walaupun sebetulnya mereka masih belum buka. Lumayan dapat duduk buat taruh tas dan kita buka makanan bekal dari pokhara yaitu KFC, walaupun udh dingin tapi lumayan buat makan pagi daripada kelaparan.

Supermarket ini kalau tidak salah mulai buka jam 9am dan kita sempat belanja makanan ringan dan teh yang akan dijadikan oleh2....tidak semua tapi beli sebagian karena perjalanan masih ada 4 hari lagi.

Sekitar hampir jam 10 si supir datang dan kita mulai berangkat. Ngobrol punya ngobrol si supir sedikit mengerti bahasa karena pernah bekerja di Malaysia. Perjalanan kita ini menuju Nagarkot tapi dalam perjalanan berkunjung dulu ke Dhulikhel. Sewa mobil ini kita total 2 hari karena sampai besok paginya di Nagarkot turun ke Bhaktapur. Dalam perjalanan kita tanya sama si supir kalau mau makan kaya lokal dimana sekalian mau makan siang. Si supir membawa kita ke tempat orang-orang lokal sana makan, disana menunya Dhal Bat dengan pipihan mau daging kerbau atau ayam. Karena makan cara lokal ya berarti pakai tangan dan piring yang menggunakan alumunium. Sayur dan nasi disini itu free flow jadi bebas mau tambah seberapa banyak. Gak disangka ternyata ini makanan terenak selama kita di Nepal. Si supir sendiri kaget liat cara kita makan karena porsinya banyak dengan tubuh yang kecil. PS: kita ga sakit perut loh!!!

Setelah makan langsung lanjut perjalanan ke Namobuddha Monastery, ini sebetulnya tidak ada di list itinerary kita tapi karena ada yang request dan sudah disana jadi ya kita memutuskan untuk juga mampir kesini. Karena ini tambahan dan area agak jauh jadinya kita perlu tambah harga sewa lagi. Kita sempat nego sama bossnya karena mobi ini dilengkapi GPS jadi tidak bisa seenaknya pergi jauh tanpa di infokan ke perusahaan. Sebetulnya harga yang dikasih tidak murah untuk sekedar tambahan tapi ya karena sudah tanggung jadi kita deal saja.

Namobuddha Monastery
Kata temen ini ibarat seperti kita lagi di Tibet tanpa harus ke Tibet, dan bagi yang tidak tahu ini apa, ini adalah biara tempat kediaman parak biksu, mungkin bisa dibilang tempat shaolin yang sering kita dengar. Lokasinya cukup besar dan mereka welcome dengan para tamu kunjungan hanya ada bagian tertentu yang tidak dapat dimasuki oleh turis. Banyak turis juga kesana berdoa dan membawa sejumlah uang yang mungkin juga dibagikan disana sebagai doa yang saya juga tidak tahu persisnya.

Disini kita hanya sekitar 1-1.5 jam karena kalau tidak nanti ketinggalan sunset di Nagarkot dan masih ada lagi monastry lain yang akan kita kunjungi dan masih mampir ke Dhulikel. Dhulikel ini sendiri sebetulnya tidak terlalu terkenal buat kunjungan khusus seperti yang disampaikan si supir karena tidak terlalu besar kotanya dan ada pilihan kota lain sebetulnya. Tapi Dhulikel ini terkenal buat para trekking karena termasuk jalur trekking dari dan ke Nagarkot

Dhulikel
Enaknya disini itu sepi dibanding kota-kota lain apalagi Kathmandu. Disini juga ada tersedia hotel loh bagi kalian yang mau menginap agak menyepi mungkin bisa dipertimbangkan. Dari sini penulis lanjut ke Dhagpo Sheydrub Ling Monastery yang searah perjalanan ke Nagarkot, tapi sangat disayangkan karena hari dimana kita berkunjung tidak dibuka untuk umum. Sempat foto-foto sebentar bagian luarnya seperti dibawah ini:

Dhagpo Sheydrub Ling Monastery

Dari sini kita langsung melanjutkan ke Nagarkot yang menjadi tujuan utama di hari ini. Secara perjalanan masih lebih baik dibanding sewaktu ke Sarangkot tapi masih banyak menggunakan batu-batu juga yang belum jalan aspal. Dan sama seperti di Sarangkot, masuk Nagarkot juga bayar, tapi kalau kita tinggal di penginapan yang tidak masuk kedalam tidak perlu bayar. Harganya untuk per orang dikenakan NPR 339, memang jauh lebih mahal ya dibanding Sarangkot, padahal secara keseluruhan Sarangkot suasananya masih lebih bagus. Kalau mau tidak bayar bisa menginap di bagian agak luar tapi kalau pagi kita mau liat sunset juga sepertinya akan diminta bayar juga. Tapi ada beberapa hotel sebelum garis merah di peta bawah yang posisi agak diluar dan tidak perlu bayar untuk masuk ke hotel.

Hotel Nagarkot

Di hotel pun kita agak bermasalah karena pas sampai kamar yang kita mau tidak ada kuncinya jadi harus pindah ke kamar lain dan masalahnya di kamar ganti ini tidak ada air, kalaupun ada air ya airnya agak kotor. Solusinya adalah ya kita harus numpang mandi di kamar mandi kamar lain. Huh pengalaman yg tdk menyenangkan ditambah kamar ini agak berdebu. Karena daerah ini msh dekat hutan jadi kita tidak buka pintu karena nanti bnyk binatang yg masuk. Heran juga kenapa hotel ini dapat review yang lumayan, tapi ya mungkin karena murah. Di sebelah sepertinya masih banyak pilihan hotel yang lebih baru dan mungkin lebih baik.

Karena hari sudah sore menjelang malam kita tidak bisa kemana-mana jadi hanya bisa jalan turun sedikit sambil cari makan. Untungnya di hotel ini tidak diharuskan beli makanan disana seperti ketika di Ghandruk. Untungnya tidak seperti di Sarangkot atau Ghandruk, di Nagarkot ini ada supermarket kecil dengan harga yang relatif masih ok, jadinya kita bisa belanja keperluan disana, Dan untuk makan malam kita ke satu tempat restaurant disana dan memesan makanan diantaranya sekuthi, mi goreng dan makanan lainnya. Kita pesan sekuthi sesuai saran si supir tapi tentunya tanpa beer ya, walaupun dia bilang orang lokal biasanya makan sambil minum-minum..

Sewaktu menunggu makanan, disini sempat mati lampu, dan yang menarik adalah orang yang jual makanan sepertinya pergi keluar beli sesuatu, ntah beli bahan daging atau beli mi goreng sudah jadi diluar. Apapun itu yang penting kita bisa makan deh. Dari sini kita balik hotel kembali untuk beristirahat, dan sampai di hotel ditawarkan kalau mau pesan makanan disana, tapi karena kita sudah makan diluar ya kita tidak pesan. Sepertinya untuk hotel-hotel murah seperti Ghandruk dan Nagarkot, mereka memang berharap dapat untungnya dari makanan dan minuman yang kita pesan.

ok good night guys, sampe di hari besok

ATM Nepal

Buat yang cari info soal tarik uang di ATM Nepal, nah pas sekali kali ini mau bahas soal uang peruangan di Nepal. Nepal sendiri sebetulny...